Nullam dignissim, ante scelerisque the is euismod fermentum odio sem semper the is erat, a feugiat leo urna eget eros. Duis Aenean a imperdiet risus.

Memuat Data Peraturan...

Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 79 Tahun 2013

Abstrak Peraturan

Data tidak tersedia

Tentang
:Jaringan Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan
Bentuk Peraturan
:Peraturan Perundang-undangan
Instansi / Pemrakarsa
:Indonesia, Pemerintah Pusat
Otoritas
:Data tidak tersedia
Bentuk
:Peraturan Pemerintah
Bentuk Singkat
:PP
Nomor
:79
Tahun
:2013
Tempat Penetapan
:Jakarta
Tanggal Penetapan
:10 Desember 2013
Tanggal Pengundangan
:10 Desember 2013
Tanggal Berlaku
:10 Desember 2013
Status
:Berlaku
Bahasa
:Bahasa Indonesia
Lokasi
:Pemerintah Pusat
Sumber
:LN. 2013 No. 193, TLN No. 5468, LL SETNEG : 62 HLM
Status Verifikasi
:
Belum diverifikasi
Sektor Utama
:
Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Perhubungan
Subsektor
:
Jalan & Jembatan Lalu Lintas & Angkutan Jalan (LLAJ)
Sub Subsektor
:
Penyelenggaraan Jalan Kendaraan & Pengemudi Jalan & Angkutan Umum
Dokumen (Lampiran)

Peraturan Terkait

Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 1993

Tidak ada abstrak atau deskripsi untuk peraturan ini.

Baca selengkapnya

Undang-undang (UU) Nomor 22 Tahun 2009

1. bahwa Lalu Lintas dan Angkutan Jalan mempunyai peran strategis dalam mendukung pembangunan dan integrasi nasional sebagai bagian dari upaya memajukan kesejahteraan umum sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; bahwa Lalu Lintas dan Angkutan Jalan sebagai bagian dari sistem transportasi nasional harus dikembangkan potensi dan perannya untuk mewujudkan keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran berlalu lintas dan Angkutan Jalan dalam rangka mendukung pembangunan ekonomi dan pengembangan wilayah; bahwa perkembangan lingkungan strategis nasional dan internasional menuntut penyelenggaraan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, otonomi daerah, serta akuntabilitas penyelenggaraan negara; bahwa Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi, perubahan lingkungan strategis, dan kebutuhan penyelenggaraan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan saat ini sehingga perlu diganti dengan undang-undang yang baru. 2. Pasal 5 ayat (1) serta Pasal 20 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 3. 1. KETENTUAN UMUM 2. ASAS DAN TUJUAN 3. RUANG LINGKUP KEBERLAKUAN UNDANG-UNDANG 4. PEMBINAAN 5. PENYELENGGARAAN 6. JARINGAN LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN 7. KENDARAAN 8. PENGEMUDI 9. LALU LINTAS 10. ANGKUTAN 11. KEAMANAN DAN KESELAMATAN LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN 12. DAMPAK LINGKUNGAN 13. PENGEMBANGAN INDUSTRI DAN TEKNOLOGI SARANA DAN PRASARANA LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN 14. KECELAKAAN LALU LINTAS 15. PERLAKUAN KHUSUS BAGI PENYANDANG CACAT, MANUSIA USIA LANJUT, ANAK-ANAK, WANITA HAMIL, DAN ORANG SAKIT 16. SISTEM INFORMASI DAN KOMUNIKASI LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN 17. SUMBER DAYA MANUSIA 18. PERAN SERTA MASYARAKAT 19. PENYIDIKAN DAN PENINDAKAN PELANGGARAN LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN 20. KETENTUAN PIDANA 21. KETENTUAN PERALIHAN 22. KETENTUAN PENUTUP

Baca selengkapnya

Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 30 Tahun 2021

1. Untuk melaksanakan ketentuan Pasal 55 dan Pasal 185 huruf b Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Penyelenggaraan Bidang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. 2. Dasar hukum PP ini adalah Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; UU Nomor 22 Tahun 2009; dan UU Nomor 11 Tahun 2020. 3. PP ini mengatur antara lain mengenai ketentuan-ketentuan terkait analisis dampak Lalu Lintas, pengujian dan rancang bangun Kendaraan Bermotor, penyelenggaraan Terminal, Perizinan Berusaha bidang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan serta subsidi penyelenggaraan angkutan, sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Dalam rangka menjamin keamanan, keselamatan, ketertiban, dan Kelancaran Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, rencana pembangunan suatu pusat kegiatan wajib dilakukan analisis dampak Lalu Lintas sesuai dengan kategori skala dampak bangkitan Lalu Lintas yang ditimbulkan. Untuk memberikan kemudahan berusaha bagi para pelaku usaha, dokumen analisis dampak Lalu Lintas dimaksud terintegrasi dengan dokumen analisis mengenai dampak lingkungan hidup atau upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup.

Baca selengkapnya

Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 79 Tahun 2013
TENTANG
JARINGAN LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang
:
a.
bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 18, Pasal 20 ayat (3), Pasal 21 ayat (5), Pasal 25 ayat (2), Pasal 42, Pasal 43 ayat (4), Pasal 46 ayat (2) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan;
Mengingat
:
1.
Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
2.
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 96, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5025);

MEMUTUSKAN:

menetapkan
:
PERATURAN PEMERINTAH TENTANG JARINGAN LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan:
1.
Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan adalah serangkaian Simpul dan/atau Ruang Kegiatan yang saling terhubungkan untuk penyelenggaraan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
2.
Ruang Kegiatan adalah berupa kawasan permukiman, industri, pertambangan, pertanian, kehutanan, perkantoran, perdagangan, pariwisata, dan tempat lain yang berfungsi sebagai kawasan tertentu.
3.
Simpul adalah tempat yang diperuntukkan bagi pergantian antarmoda dan intermoda yang berupa Terminal, stasiun kereta api, pelabuhan laut, pelabuhan sungai dan danau, dan/atau bandar udara.
4.
Ruang Lalu Lintas adalah prasarana yang diperuntukkan bagi gerak pindah kendaraan, orang, dan/atau barang yang berupa Jalan dan fasilitas pendukung.
5.
Jalan adalah seluruh bagian Jalan, termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi Lalu Lintas umum, yang berada pada permukaan tanah, di atas permukaan tanah, di bawah permukaan tanah dan/atau air, serta di atas permukaan air, kecuali jalan rel dan jalan kabel.
6.
Rambu Lalu Lintas adalah bagian perlengkapan Jalan yang berupa lambang, huruf, angka, kalimat, dan/atau perpaduan yang berfungsi sebagai peringatan, larangan, perintah, atau petunjuk bagi Pengguna Jalan.
7.
Marka Jalan adalah suatu tanda yang berada di permukaan Jalan atau di atas permukaan Jalan yang meliputi peralatan atau tanda yang membentuk garis membujur, garis melintang, garis serong, serta lambang yang berfungsi untuk mengarahkan arus Lalu Lintas dan membatasi daerah kepentingan Lalu Lintas.
8.
Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas adalah perangkat elektronik yang menggunakan isyarat lampu yang dapat dilengkapi dengan isyarat bunyi untuk mengatur Lalu Lintas orang dan/atau Kendaraan di persimpangan atau pada ruas Jalan.
9.
Halte adalah tempat pemberhentian kendaraan bermotor umum untuk menaikkan dan menurunkan penumpang.
10.
Terminal adalah pangkalan kendaraan bermotor umum yang digunakan untuk mengatur kedatangan dan keberangkatan, menaikkan dan menurunkan orang dan/atau barang, serta perpindahan moda angkutan.
11.
Penyelenggara Terminal adalah unit pelaksana teknis dari Pemerintah Daerah.
12.
Pengguna Jalan adalah orang yang menggunakan Jalan untuk berlalu lintas.
13.
Pejalan Kaki adalah setiap orang yang berjalan di Ruang Lalu Lintas.
14.
Pemerintah Pusat, selanjutnya disebut Pemerintah, adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
15.
Pemerintah Daerah adalah gubernur, bupati/walikota, dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah.
16.
Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang sarana dan prasarana lalu lintas dan angkutan jalan.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Pasal 2
Ruang lingkup Peraturan Pemerintah ini mengatur mengenai:
a.
Rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan;
b.
Ruang Lalu Lintas;
c.
Perlengkapan Jalan;
d.
Terminal;
e.
fasilitas parkir umum; dan
f.
fasilitas pendukung.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
BAB II
RENCANA INDUK
Bagian Kesatu Umum
Pasal 3
(1)
Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib mengembangkan Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan untuk menghubungkan semua wilayah daratan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
(2)
Pengembangan Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai kebutuhan dengan berpedoman pada rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
(3)
Rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri atas:
a.
rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan nasional;
b.
rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan provinsi; dan
c.
rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan kabupaten/kota.
(4)
Rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) berlaku selama kurun waktu 20 (dua puluh) tahun dan dievaluasi secara berkala paling sedikit sekali dalam 5 (lima) tahun.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Bagian Kedua Rencana Induk
Pasal 4
(1)
Rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan nasional meliputi:
a.
rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan nasional untuk antarkota yang lebih dari 1 (satu) wilayah provinsi;
Penjelasan: Cukup jelas.
b.
rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan nasional untuk perkotaan yang lebih dari 1 (satu) wilayah provinsi; dan
Penjelasan: Yang dimaksud dengan "perkotaan yang lebih dari 1 (satu) wilayah provinsi" adalah aktivitas transportasi di wilayah perkotaan yang berciri komuter yang melewati batas wilayah provinsi dan/atau negara.
c.
rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan nasional untuk perdesaan yang lebih dari 1 (satu) wilayah provinsi.
Penjelasan: Yang dimaksud dengan "perdesaan yang lebih dari 1 (satu) wilayah provinsi” adalah aktivitas transportasi di wilayah perdesaan yang berciri komuter yang melewati batas wilayah provinsi dan/atau negara.
(2)
Rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan nasional disusun berdasarkan kebutuhan transportasi dan Ruang Kegiatan yang berskala nasional.
Penjelasan: Yang dimaksud dengan kebutuhan transportasi dan Ruang Kegiatan yang berskala nasional termasuk didalamnya fungsi dan peranan jalan yang berskala nasional, serta kapasitas dan kelas jalan.
(3)
Rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan nasional untuk antarkota, perkotaan, dan perdesaan yang lebih dari 1 (satu) wilayah provinsi memuat:
Penjelasan: Cukup jelas.
a.
prakiraan perpindahan orang dan/atau barang menurut asal tujuan perjalanan lingkup nasional;
b.
arah dan kebijakan peranan lalu lintas dan angkutan jalan nasional dalam keseluruhan moda transportasi nasional;
c.
rencana lokasi dan kebutuhan Simpul nasional; dan
d.
rencana kebutuhan Ruang Lalu Lintas nasional.
(4)
Rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan arahan dan pedoman untuk:
a.
pengembangan Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan nasional;
Penjelasan: Cukup jelas.
b.
integrasi antar dan intra moda transportasi nasional;
Penjelasan: Cukup jelas.
c.
penyusunan rencana umum lalu lintas dan angkutan jalan nasional;
Penjelasan: Cukup jelas.
d.
penyusunan rencana umum jaringan jalan nasional;
Penjelasan: Cukup jelas.
e.
penyusunan rencana umum jaringan trayek angkutan antarkota, perkotaan, dan perdesaan antarprovinsi serta angkutan lintas batas negara;
Penjelasan: Cukup jelas.
f.
penyusunan rencana umum jaringan lintas angkutan barang nasional;
Penjelasan: Cukup jelas.
g.
pembangunan Simpul nasional; dan
Penjelasan: Yang dimaksud dengan "Simpul nasional" adalah tempat pergantian antar dan inter moda yang melayani angkutan antar provinsi dan/atau lintas batas negara, dapat berupa Terminal, stasiun kereta api, pelabuhan, dan bandar udara.
h.
pengembangan teknologi dan industri lalu lintas dan angkutan jalan tingkat nasional.
Penjelasan: Cukup jelas.
Pasal 5
(1)
Penyusunan rancangan rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan nasional dilakukan oleh Menteri setelah berkoordinasi dengan instansi terkait.
Penjelasan: Yang dimaksud dengan instansi terkait adalah instansi yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang jalan dan tata ruang dan instansi yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang riset dan teknologi.
(2)
Penyusunan rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan memperhatikan:
Penjelasan: Cukup jelas.
a.
dokumen rencana pembangunan jangka panjang nasional;
b.
dokumen rencana tata ruang wilayah nasional;
c.
dokumen rencana induk perkeretaapian nasional;
d.
dokumen rencana induk pelabuhan nasional; dan
e.
dokumen rencana induk nasional bandar udara.
Pasal 6
Rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ditetapkan dengan Peraturan Presiden.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Bagian Ketiga Rencana Induk
Pasal 7
(1)
Rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan provinsi meliputi:
a.
rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan provinsi untuk antarkota dalam wilayah provinsi;
Penjelasan: Cukup jelas.
b.
rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan provinsi untuk perkotaan dalam wilayah provinsi; dan
Penjelasan: Yang dimaksud dengan "perkotaan dalam wilayah provinsi" adalah aktivitas transportasi di wilayah perkotaan yang berciri komuter yang melewati batas wilayah kota/kabupaten dalam satu provinsi.
c.
rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan provinsi untuk perdesaan dalam wilayah provinsi.
Penjelasan: Yang dimaksud dengan"perdesaan dalam wilayah provinsi" adalah aktivitas transportasi di wilayah perdesaan yang berciri komuter yang melewati batas wilayah kota/kabupaten dalam satu provinsi.
(2)
Rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan provinsi disusun berdasarkan kebutuhan transportasi dan Ruang Kegiatan yang berskala provinsi.
Penjelasan: Yang dimaksud dengan kebutuhan transportasi dan Ruang Kegiatan yang berskala provinsi termasuk didalamnya fungsi dan peranan jalan yang berskala provinsi, serta kapasitas dan kelas jalan
(3)
Rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan provinsi untuk antarkota, perkotaan, dan perdesaan dalam wilayah provinsi memuat:
Penjelasan: Cukup jelas.
a.
prakiraan perpindahan orang dan/atau barang menurut asal tujuan perjalanan lingkup provinsi;
b.
arah dan kebijakan peranan lalu lintas dan angkutan jalan provinsi dalam keseluruhan moda transportasi;
c.
rencana lokasi dan kebutuhan Simpul skala provinsi; dan
d.
rencana kebutuhan Ruang Lalu Lintas skala provinsi.
(4)
Rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan arahan dan pedoman untuk:
a.
pengembangan Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan provinsi;
Penjelasan: Cukup jelas.
b.
integrasi antar dan intra moda transportasi tingkat provinsi;
Penjelasan: Cukup jelas.
c.
penyusunan rencana umum lalu lintas dan angkutan jalan provinsi;
Penjelasan: Cukup jelas.
d.
penyusunan rencana umum jaringan jalan provinsi;
Penjelasan: Cukup jelas.
e.
penyusunan rencana umum jaringan trayek angkutan antarkota, perkotaan, dan perdesaan dalam provinsi;
Penjelasan: Cukup jelas.
f.
penyusunan rencana umum jaringan lintas angkutan barang provinsi;
Penjelasan: Cukup jelas.
g.
pembangunan Simpul provinsi; dan
Penjelasan: Yang dimaksud dengan "Simpul provinsi" adalah tempat pergantian antar dan inter moda yang melayani angkutan dalam provinsi, dapat berupa Terminal, stasiun kereta api, pelabuhan, dan bandar udara.
h.
pengembangan teknologi dan industri lalu lintas dan angkutan jalan provinsi.
Penjelasan: Cukup jelas.
Pasal 8
(1)
Penyusunan rancangan rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan provinsi dilakukan oleh Gubernur.
(2)
Penyusunan rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan memperhatikan:
a.
dokumen rencana tata ruang wilayah nasional;
b.
dokumen rencana tata ruang wilayah provinsi;
c.
dokumen rencana pembangunan jangka panjang daerah provinsi;
d.
dokumen rencana induk perkeretaapian provinsi;
e.
dokumen rencana induk pelabuhan nasional;
f.
dokumen rencana induk nasional bandar udara; dan
g.
dokumen rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan nasional.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Pasal 9
Rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ditetapkan dengan Peraturan Gubernur setelah mendapat pertimbangan Menteri.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Bagian Keempat Rencana Induk
Pasal 10
(1)
Rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan kabupaten meliputi:
a.
rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan kabupaten untuk antarkota dalam wilayah kabupaten;
Penjelasan: Cukup jelas.
b.
rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan kabupaten untuk perkotaan dalam wilayah kabupaten; dan
Penjelasan: Yang dimaksud dengan"perkotaan dalam wilayah kabupaten" adalah aktivitas transportasi di wilayah perkotaan yang berciri komuter dalam wilayah kabupaten dalam satu provinsi.
c.
rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan kabupaten untuk perdesaan dalam wilayah kabupaten.
Penjelasan: Yang dimaksud dengan"perdesaan dalam wilayah kabupaten" adalah aktivitas transportasi di wilayah perdesaan yang berciri komuter dalam wilayah kabupaten dalam satu provinsi.
(2)
Rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan kabupaten disusun berdasarkan kebutuhan transportasi dan Ruang Kegiatan yang berskala kabupaten.
Penjelasan: Yang dimaksud dengan kebutuhan transportasi dan Ruang Kegiatan yang berskala kabupaten termasuk didalamnya fungsi dan peranan jalan yang berskala kabupaten, serta kapasitas dan kelas jalan.
(3)
Rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan kabupaten untuk antarkota, perkotaan, dan perdesaan dalam wilayah kabupaten memuat:
Penjelasan: Cukup jelas.
a.
prakiraan perpindahan orang dan/atau barang menurut asal tujuan perjalanan lingkup kabupaten;
b.
arah dan kebijakan peranan lalu lintas dan angkutan jalan kabupaten dalam keseluruhan moda transportasi;
c.
rencana lokasi dan kebutuhan Simpul skala kabupaten; dan
d.
rencana kebutuhan Ruang Lalu Lintas skala kabupaten.
(4)
Rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan kabupaten sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan arahan dan pedoman untuk:
a.
pengembangan Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan kabupaten;
Penjelasan: Cukup jelas.
b.
integrasi antar dan intra moda transportasi tingkat kabupaten;
Penjelasan: Cukup jelas.
c.
penyusunan rencana umum lalu lintas dan angkutan jalan kabupaten;
Penjelasan: Cukup jelas.
d.
penyusunan rencana umum jaringan jalan kabupaten;
Penjelasan: Cukup jelas.
e.
penyusunan rencana umum jaringan trayek angkutan perkotaan dan/atau perdesaan;
Penjelasan: Cukup jelas.
f.
penyusunan rencana umum jaringan lintas angkutan barang kabupaten;
Penjelasan: Cukup jelas.
g.
pembangunan Simpul kabupaten; dan
Penjelasan: Yang dimaksud "Simpul kabupaten" adalah tempat pergantian antar dan inter moda yang melayani angkutan dalam kabupaten, dapat berupa Terminal, stasiun kereta api, pelabuhan, dan bandar udara.
h.
pengembangan teknologi dan industri lalu lintas dan angkutan jalan kabupaten.
Penjelasan: Cukup jelas.
Pasal 11
(1)
Penyusunan rancangan rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan kabupaten dilakukan oleh Bupati.
(2)
Penyusunan rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan kabupaten sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan memperhatikan:
a.
dokumen rencana tata ruang wilayah nasional;
b.
dokumen rencana tata ruang wilayah provinsi;
c.
dokumen rencana tata ruang wilayah kabupaten;
d.
dokumen rencana pembangunan jangka panjang daerah kabupaten;
e.
dokumen rencana induk perkeretaapian kabupaten;
f.
dokumen rencana induk pelabuhan nasional;
g.
dokumen rencana induk nasional bandar udara;
h.
dokumen rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan nasional; dan
i.
dokumen rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan provinsi.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Pasal 12
Rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan kabupaten sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ditetapkan dengan Peraturan Bupati setelah mendapat pertimbangan Gubernur dan Menteri.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Bagian Kelima Rencana Induk
Pasal 13
(1)
Rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan kota memuat:
Penjelasan: Cukup jelas.
a.
prakiraan perpindahan orang dan/atau barang menurut asal tujuan perjalanan lingkup kota;
b.
arah dan kebijakan peranan lalu lintas dan angkutan jalan kota dalam keseluruhan moda transportasi;
c.
rencana lokasi dan kebutuhan Simpul kota; dan
d.
rencana kebutuhan Ruang Lalu Lintas kota.
(2)
Rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan kota disusun berdasarkan kebutuhan transportasi dan Ruang Kegiatan yang berskala kota.
Penjelasan: Yang dimaksud dengan kebutuhan transportasi dan Ruang Kegiatan yang berskala kota termasuk didalamnya fungsi dan peranan jalan yang berskala kota, serta kapasitas dan kelas jalan.
(3)
Rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan arahan dan pedoman untuk:
a.
pengembangan Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan kota;
Penjelasan: Cukup jelas.
b.
integrasi antar dan intra moda transportasi tingkat kota;
Penjelasan: Cukup jelas.
c.
penyusunan rencana umum lalu lintas dan angkutan jalan kota;
Penjelasan: Cukup jelas.
d.
penyusunan rencana umum jaringan jalan kota;
Penjelasan: Cukup jelas.
e.
penyusunan rencana umum jaringan trayek angkutan perkotaan;
Penjelasan: Cukup jelas.
f.
penyusunan rencana umum jaringan lintas angkutan barang kota;
Penjelasan: Cukup jelas.
g.
pembangunan Simpul kota; dan
Penjelasan: Yang dimaksud dengan "Simpul kota" adalah tempat pergantian antar dan inter moda yang melayani angkutan dalam kota dapat berupa Terminal, stasiun kereta api, pelabuhan, dan bandar udara.
h.
pengembangan teknologi dan industri lalu lintas dan angkutan jalan kota.
Penjelasan: Cukup jelas.
Pasal 14
(1)
Penyusunan rancangan rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan kota dilakukan oleh Walikota.
(2)
Penyusunan rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan memperhatikan:
a.
dokumen rencana tata ruang wilayah nasional;
b.
dokumen rencana tata ruang wilayah provinsi;
c.
dokumen rencana tata ruang wilayah kota;
d.
dokumen rencana pembangunan jangka panjang daerah kota;
e.
dokumen rencana induk perkeretaapian kota;
f.
dokumen rencana induk pelabuhan nasional;
g.
dokumen rencana induk nasional bandar udara;
h.
dokumen rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan nasional; dan
i.
dokumen rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan provinsi.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Pasal 15
Rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ditetapkan dengan Peraturan Walikota setelah mendapat pertimbangan Gubernur dan Menteri.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Bagian Keenam Pengaturan Lebih Lanjut
Pasal 16
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyusunan rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan diatur dengan Peraturan Menteri.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
BAB III
RUANG LALU LINTAS
Bagian Kesatu Kelas Jalan
Pasal 17
(1)
Kelas jalan atas dasar fungsi dan intensitas lalu lintas serta daya dukung menerima muatan sumbu terberat dan dimensi kendaraan bermotor terdiri atas:
a.
jalan kelas I;
b.
jalan kelas II;
c.
jalan kelas III; dan
d.
jalan kelas khusus.
(2)
Jalan kelas I sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi jalan arteri dan kolektor.
(3)
Jalan kelas II sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi jalan arteri, kolektor, lokal, dan lingkungan.
(4)
Jalan kelas III sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c meliputi jalan arteri, kolektor, lokal, dan lingkungan.
(5)
Jalan kelas khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d diatur dalam peraturan pemerintah tersendiri.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Pasal 18
(1)
Penetapan kelas jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 meliputi:
a.
jalan nasional dilakukan dengan keputusan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang jalan setelah mendapat pertimbangan dari Menteri;
b.
jalan provinsi dilakukan dengan keputusan gubernur setelah mendapat pertimbangan dari menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang jalan;
c.
jalan kabupaten dan jalan desa dilakukan dengan keputusan bupati; dan
d.
jalan kota dilakukan dengan keputusan walikota.
(2)
Penetapan kelas jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan teknis yang mempertimbangkan aspek keselamatan, struktur jalan, dan geometrik jalan.
(3)
Persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dalam tata cara penetapan kelas jalan memperhatikan pedoman yang ditetapkan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang jalan.
(4)
Ketentuan lebih lanjut mengenai penetapan kelas jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang jalan.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Pasal 19
(1)
Kendaraan bermotor yang dapat berlalu lintas di setiap kelas jalan ditentukan berdasarkan ukuran, dimensi, muatan sumbu terberat, dan permintaan angkutan.
(2)
Kendaraan bermotor yang dapat berlalu lintas di jalan Kelas I ditentukan:
a.
ukuran lebar tidak melebihi 2.500 (dua ribu lima ratus) milimeter;
b.
ukuran panjang tidak melebihi 18.000 (delapan belas ribu) milimeter;
c.
ukuran tinggi tidak melebihi 4.200 (empat ribu dua ratus) milimeter; dan
d.
ukuran muatan sumbu terberat 10 (sepuluh) ton.
(3)
Kendaraan bermotor yang dapat berlalu lintas di jalan Kelas II ditentukan:
a.
ukuran lebar tidak melebihi 2.500 (dua ribu lima ratus) milimeter;
b.
ukuran panjang tidak melebihi 12.000 (dua belas ribu) milimeter;
c.
ukuran tinggi tidak melebihi 4.200 (empat ribu dua ratus) milimeter; dan
d.
ukuran muatan sumbu terberat 8 (delapan) ton.
(4)
Kendaraan bermotor yang dapat berlalu lintas di jalan Kelas III ditentukan:
a.
ukuran lebar tidak melebihi 2.100 (dua ribu seratus) milimeter;
b.
ukuran panjang tidak melebihi 9.000 (sembilan ribu) milimeter;
c.
ukuran tinggi tidak melebihi 3.500 (tiga ribu lima ratus) milimeter; dan
d.
ukuran muatan sumbu terberat 8 (delapan) ton.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Pasal 20
(1)
Jalan kelas III didesain dengan muatan sumbu terberat kurang dari 8 (delapan) ton hanya dapat dilewati kendaraan bermotor dengan ukuran:
a.
lebar tidak melebihi 2.100 (dua ribu seratus) milimeter;
b.
panjang tidak melebihi 9.000 (sembilan ribu) milimeter; dan
c.
paling tinggi 3.500 (tiga ribu lima ratus) milimeter.
(2)
Penetapan muatan sumbu terberat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh penyelenggara jalan sesuai dengan kewenangan.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Pasal 21
(1)
Penetapan kelas jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 dinyatakan dengan pemasangan Rambu Lalu Lintas pada setiap ruas jalan.
(2)
Pemasangan rambu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan ketentuan:
a.
jalan nasional dilakukan oleh Menteri;
b.
jalan provinsi dilakukan oleh pemerintah provinsi;
c.
jalan kabupaten dan jalan desa dilakukan oleh pemerintah kabupaten;
d.
jalan kota dilakukan oleh pemerintah kota; dan
e.
jalan di Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta dilakukan oleh gubernur.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Pasal 22
Penetapan kelas jalan pada ruas-ruas jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 dimuat dalam dokumen jalan.
Penjelasan Pasal:
Yang dimaksud dengan "dokumen jalan" antara lain leger jalan, dokumen aset jalan, gambar terlaksana, dan dokumen laik fungsi jalan.
Bagian Kedua Batas Kecepatan
Pasal 23
(1)
Setiap jalan memiliki batas kecepatan paling tinggi yang ditetapkan secara nasional.
Penjelasan: Cukup jelas.
(2)
Batas kecepatan paling tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
Penjelasan: Cukup jelas.
a.
batas kecepatan jalan bebas hambatan;
b.
batas kecepatan jalan antarkota;
c.
batas kecepatan jalan pada kawasan perkotaan; dan
d.
batas kecepatan jalan pada kawasan permukiman.
(3)
Untuk jalan bebas hambatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a ditetapkan batas kecepatan paling rendah.
Penjelasan: Cukupjelas.
(4)
Batas kecepatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) ditetapkan:
a.
paling rendah 60 (enam puluh) kilometer per jam dalam kondisi arus bebas dan paling tinggi 100 (seratus) kilometer per jam untuk jalan bebas hambatan;
Penjelasan: Yang dimaksud dengan"arus bebas"adalah kondisi arus lalu lintas dengan volume rendah, kepadatan rendah, dengan kecepatan yang dikendalikan oleh pengemudi dan gangguan dari kendaraan lain tidak ada/kecil, dan pengemudi dapat mempertahankan kecepatan sesuai keinginan atau batas kecepatan tanpa tundaan.
b.
paling tinggi 80 (delapan puluh) kilometer per jam untuk jalan antarkota;
Penjelasan: Cukup jelas.
c.
paling tinggi 50 (lima puluh) kilometer per jam untuk kawasan perkotaan; dan
Penjelasan: Cukup jelas.
d.
paling tinggi 30 (tiga puluh) kilometer per jam untuk kawasan permukiman.
Penjelasan: Cukup jelas.
(5)
Batas kecepatan paling tinggi dan batas kecepatan paling rendah sebagaimana dimaksud pada ayat (4) harus dinyatakan dengan Rambu Lalu Lintas.
Penjelasan: Cukup jelas.
Pasal 24
(1)
Batas kecepatan paling tinggi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2) dapat ditetapkan lebih rendah atas dasar pertimbangan:
Penjelasan: Cukup jelas.
a.
frekuensi kecelakaan yang tinggi di lingkungan jalan yang bersangkutan;
b.
perubahan kondisi permukaan jalan atau geometri jalan atau lingkungan sekitar jalan; atau
c.
usulan masyarakat melalui rapat forum lalu lintas dan angkutan jalan sesuai dengan tingkatan status jalan.
(2)
Perubahan batas kecepatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dinyatakan dengan Rambu Lalu Lintas.
Penjelasan: Cukup jelas.
(3)
Perubahan batas kecepatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh:
a.
Menteri, untuk jalan nasional;
Penjelasan: Yang termasuk jalan nasional dalam ketentuan ini termasuk jalan nasional yang melalui kawasan perkotaan dan kawasan permukiman.
b.
gubernur, untuk jalan provinsi;
Penjelasan: Yang termasuk jalan provinsi dalam ketentuan ini termasuk jalan provinsi yang melalui kawasan perkotaan dan kawasan permukiman.
c.
bupati, untuk jalan kabupaten dan jalan desa; dan
Penjelasan: Yang termasuk jalan kabupaten dalam ketentuan ini termasuk jalan kabupaten yang melalui kawasan perkotaan dan kawasan permukiman.
d.
walikota, untuk jalan kota.
Penjelasan: Cukup jelas.
(4)
Proses penetapan batas kecepatan dilakukan setelah rapat forum lalu lintas dan angkutan jalan pada semua tingkatan sesuai dengan kewenangan jalan.
Penjelasan: Cukup jelas.
Pasal 25
Ketentuan lebih lanjut mengenai norma, standar, pedoman, dan kriteria penetapan batas kecepatan diatur dengan Peraturan Menteri setelah mendapat pertimbangan dari Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
BAB IV
PERLENGKAPAN JALAN
Bagian Kesatu Umum
Pasal 26
Setiap jalan yang digunakan untuk lalu lintas umum wajib dilengkapi dengan perlengkapan jalan berupa:
a.
Rambu Lalu Lintas;
b.
Marka Jalan;
c.
Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas;
d.
alat penerangan jalan;
e.
alat pengendali dan pengaman Pengguna Jalan;
f.
alat pengawasan dan pengamanan jalan;
g.
fasilitas untuk sepeda, Pejalan Kaki, dan penyandang cacat; dan
h.
fasilitas pendukung kegiatan lalu lintas dan angkutan jalan yang berada di jalan dan di luar badan jalan.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Pasal 27
(1)
Penentuan lokasi, pengadaan, pemasangan, pemeliharaan, perbaikan, penghapusan, dan pengawasan perlengkapan jalan harus sesuai dengan peruntukan.
(2)
Penentuan lokasi, pengadaan, dan pemasangan perlengkapan jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan berdasarkan hasil analisis manajemen dan rekayasa lalu lintas.
(3)
Penentuan lokasi, pengadaan, pemasangan, pemeliharaan, perbaikan, penghapusan, dan pengawasan perlengkapan jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh:
a.
Menteri, untuk jalan nasional;
b.
gubernur, untuk jalan provinsi;
c.
bupati, untuk jalan kabupaten dan jalan desa; dan
d.
walikota, untuk jalan kota.
(4)
Khusus untuk jalan tol, pengadaan, pemasangan, pemeliharaan, perbaikan, penghapusan, dan pengawasan perlengkapan jalan dilakukan oleh penyelenggara jalan tol setelah mendapatkan penetapan Menteri.
(5)
Pengadaan, pemasangan, dan pemeliharaan perlengkapan jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilaksanakan berdasarkan standar teknis yang ditetapkan oleh Menteri.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Pasal 28
(1)
Penentuan lokasi dan pemasangan bangunan dan/atau fasilitas yang bukan termasuk perlengkapan jalan di ruang milik jalan dilarang mengganggu keberadaan dan fungsi perlengkapan jalan.
(2)
Tata cara penentuan lokasi dan pemasangan bangunan dan/atau fasilitas yang bukan termasuk perlengkapan jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Bagian Kedua Rambu Lalu Lintas
Pasal 29
(1)
Rambu Lalu Lintas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 huruf a terdiri atas:
Penjelasan: Cukup jelas.
a.
rambu peringatan;
b.
rambu larangan;
c.
rambu perintah; dan
d.
rambu petunjuk.
(2)
Rambu peringatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a digunakan untuk memberi peringatan kemungkinan ada bahaya di jalan atau tempat berbahaya pada jalan dan menginformasikan tentang sifat bahaya.
Penjelasan: Cukup jelas.
(3)
Rambu larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b digunakan untuk menyatakan perbuatan yang dilarang dilakukan oleh Pengguna Jalan.
Penjelasan: Cukup jelas.
(4)
Rambu perintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c digunakan untuk menyatakan perintah yang wajib dilakukan oleh Pengguna Jalan.
Penjelasan: Cukup jelas.
(5)
Rambu petunjuk sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d digunakan untuk memandu Pengguna Jalan saat melakukan perjalanan atau untuk memberikan informasi lain kepada Pengguna Jalan.
Penjelasan: Informasi yang diberikan menyatakan petunjuk bagi Pengguna Jalan mengenai jurusan, jalan, situasi, kota, tempat, fasilitas, atau petunjuk lain seperti nomor jalan, petunjuk satu arah, petunjuk putaran balik, tempat perhentian kendaraan angkutan umum, lajur bus.
Pasal 30
(1)
Rambu Lalu Lintas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1) dipasang secara tetap.
Penjelasan: Cukup jelas.
(2)
Dalam keadaan dan kegiatan tertentu dapat digunakan Rambu Lalu Lintas sementara.
Penjelasan: Yang dimaksud dengan"keadaan tertentu" adalah kondisi sistem lalu lintas tidak berfungsi untuk kelancaran dan keselamatan lalu lintas yang disebabkan oleh: a. perubahan lalu lintas secara tiba-tiba atau situasional; b. Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas tidak berfungsi; c. adanya Pengguna Jalan yang diprioritaskan; d. adanya pekerjaan jalan; e. adanya bencana alam;dan/atau f. adanya Kecelakaan Lalu Lintas. Yang dimaksud dengan "kegiatan tertentu" adalah kondisi sistem lalu lintas tidak berfungsi untuk kelancaran lalu lintas yang disebabkan oleh penyelenggaraan kegiatan di luar fungsi jalan antara lain: a. kegiatan keagamaan; b. kegiatan kenegaraan; c. kegiatan olahraga;dan/atau d. kegiatan budaya.
(3)
Penempatan dan penggunaan Rambu Lalu Lintas sementara sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang bersifat perintah dan larangan dapat didukung atau dijaga oleh Petugas dari Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Penjelasan: Cukup jelas.
(4)
Pada Rambu Lalu Lintas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dapat dilengkapi papan tambahan yang memuat keterangan tertentu.
Penjelasan: Yang dimaksud dengan "keterangan tertentu" adalah keterangan yang diperlukan untuk menyatakan hanya berlaku untuk waktu, jarak, dan jenis kendaraan tertentu ataupun perihal lain.
Pasal 31
(1)
Untuk mencegah terjadinya kecelakaan lalu lintas:
a.
penyelenggara jalan wajib memberi tanda atau rambu sementara pada jalan yang rusak; dan
b.
pelaksana pekerjaan jalan wajib memberi tanda atau rambu sementara pada saat melaksanakan pekerjaan jalan.
(2)
Ketentuan lebih lanjut mengenai pemberian tanda atau rambu sementara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Pasal 32
(1)
Rambu Lalu Lintas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1) dapat berupa:
Penjelasan: Cukup jelas.
a.
Rambu Lalu Lintas konvensional; atau
b.
Rambu Lalu Lintas elektronik.
(2)
Rambu Lalu Lintas konvensional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a berupa rambu dengan bahan yang mampu memantulkan cahaya atau retro reflektif.
Penjelasan: Yang dimaksud dengan "retro reflektif" adalah sistem pemantulan cahaya dimana sinar yang datang dipantulkan kembali sejajar ke arah sinar datang, terutama pada malam hari atau cuaca gelap.
(3)
Rambu Lalu Lintas elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b berupa rambu yang informasinya dapat diatur secara elektronik.
Penjelasan: Yang dimaksud dengan informasi yang dapat diatur secara elektronik adalah jenis/bentuk dan waktu berlaku informasi dapat diatur sesuai kebutuhan manajemen dan rekayasa lalu lintas pada lokasi tersebut.
Bagian Ketiga Marka Jalan
Paragraf 1 Umum
Pasal 33
(1)
Marka Jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 huruf b berfungsi untuk mengatur lalu lintas, memperingatkan, atau menuntun Pengguna Jalan dalam berlalu lintas berupa:
Penjelasan: Cukup jelas.
a.
peralatan; atau
b.
tanda.
(2)
Peralatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a berupa:
Penjelasan: Cukup jelas.
a.
paku jalan;
b.
alat pengarah lalu lintas; dan
c.
pembagi lajur atau jalur.
(3)
Tanda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b berupa:
a.
marka membujur;
Penjelasan: Cukup jelas.
b.
marka melintang;
Penjelasan: Cukup jelas.
c.
marka serong;
Penjelasan: Cukup jelas.
d.
marka lambang;
Penjelasan: Cukup jelas.
e.
marka kotak kuning; dan
Penjelasan: Cukup jelas.
f.
marka lainnya.
Penjelasan: Yang dimaksud dengan "marka lainnya" antara lain marka lajur sepeda, marka lajur khusus bus, marka lajur sepeda motor, dan marka yang tidak termasuk huruf a sampai dengan huruf e.
(4)
Marka Jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku bagi lalu lintas sesuai arah lalu lintas.
Penjelasan: Cukup jelas.
(5)
Pada kondisi tertentu, Marka Jalan yang dinyatakan dengan garis-garis pada permukaan jalan dapat dilengkapi dengan paku jalan.
Penjelasan: Yang dimaksud dengan"kondisi tertentu"adalah kondisi dimana perlu ada penegasan dan memperjelas fungsi marka.
Pasal 34
(1)
Marka Jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (1) dapat berwarna:
Penjelasan: Cukup jelas.
a.
putih;
b.
kuning;
c.
merah; dan
d.
warna lainnya.
(2)
Marka Jalan berwarna putih sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a menyatakan bahwa Pengguna Jalan wajib mengikuti perintah atau larangan sesuai dengan bentuknya.
Penjelasan: Cukup jelas.
(3)
Marka Jalan berwarna kuning sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b menyatakan bahwa Pengguna Jalan dilarang berhenti pada area tersebut.
Penjelasan: Cukup jelas.
(4)
Marka Jalan berwarna merah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c menyatakan keperluan atau tanda khusus.
Penjelasan: Yang dimaksud dengan "keperluan atau tanda khusus" misalnya jalur busway.
(5)
Marka Jalan warna lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d adalah Marka Jalan selain warna putih, kuning, dan merah yang menyatakan daerah kepentingan khusus yang harus dilengkapi dengan rambu dan/atau petunjuk yang dinyatakan dengan tegas.
Penjelasan: Yang dimaksud dengan "Marka Jalan warna lainnya" misalnya warna hijau bagi jalur pesepeda dan warna coklat bagi area pariwisata atau jalur evakuasi.
Paragraf 2 Marka Membujur
Pasal 35
Marka membujur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (3) huruf a terdiri atas:
a.
garis utuh;
b.
garis putus-putus;
c.
garis ganda yang terdiri dari garis utuh dan garis putus-putus; dan
d.
garis ganda yang terdiri dari dua garis utuh.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Pasal 36
(1)
Marka membujur berupa garis utuh sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 huruf a berfungsi sebagai larangan bagi kendaraan melintasi garis tersebut.
(2)
Marka membujur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) apabila berada di tepi jalan hanya berfungsi sebagai peringatan tanda tepi jalur lalu lintas.
(3)
Marka membujur berupa garis putus-putus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 huruf b merupakan pembatasan lajur yang berfungsi mengarahkan lalu lintas dan/atau memperingatkan akan ada marka membujur yang berupa garis utuh di depan.
(4)
Marka membujur berupa garis ganda yang terdiri dari garis utuh dan garis putus-putus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 huruf c menyatakan bahwa kendaraan yang berada pada sisi garis utuh dilarang melintasi garis ganda, dan kendaraan yang berada pada sisi garis putus-putus dapat melintasi garis ganda.
(5)
Marka membujur berupa garis ganda yang terdiri dari dua garis utuh sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 huruf d menyatakan bahwa kendaraan dilarang melintasi garis ganda tersebut.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Pasal 37
(1)
Marka membujur berupa garis putus-putus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (3) pada permukaan jalan dapat digantikan dengan kerucut lalu lintas.
(2)
Penggunaan kerucut lalu lintas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya bersifat sementara.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Paragraf 3 Marka Melintang
Pasal 38
(1)
Marka melintang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (3) huruf b berupa:
a.
garis utuh; dan
b.
garis putus-putus.
(2)
Marka melintang berupa garis utuh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a menyatakan batas berhenti bagi kendaraan yang diwajibkan berhenti oleh Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas, rambu berhenti, tempat penyeberangan, atau zebra cross.
(3)
Marka melintang berupa garis putus-putus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b menyatakan batas yang tidak dapat dilampaui kendaraan sewaktu memberi kesempatan kepada kendaraan yang mendapat hak utama pada persimpangan.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Paragraf 4 Marka Serong
Pasal 39
(1)
Marka serong sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (3) huruf c berupa:
a.
garis utuh yang dibatasi dengan rangka garis utuh; dan
b.
garis utuh yang dibatasi dengan rangka garis putus-putus.
(2)
Marka serong berupa garis utuh yang dibatasi dengan rangka garis utuh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a digunakan untuk menyatakan:
a.
daerah yang tidak boleh dimasuki kendaraan;
b.
pemberitahuan awal akan melalui pulau lalu lintas atau median jalan;
c.
pemberitahuan awal akan ada pemisahan atau percabangan jalan; atau
d.
larangan bagi kendaraan untuk melintasi.
(3)
Marka serong berupa garis utuh yang dibatasi dengan rangka garis putus-putus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b digunakan untuk menyatakan kendaraan tidak boleh memasuki daerah tersebut sampai mendapat kepastian selamat.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Paragraf 5 Marka Lambang
Pasal 40
(1)
Marka lambang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (3) huruf d dapat berupa panah, gambar, segitiga, atau tulisan yang dipergunakan untuk mengulangi maksud rambu-rambu atau untuk memberitahu Pengguna Jalan yang tidak dapat dinyatakan dengan rambu-rambu.
(2)
Marka lambang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat ditempatkan secara sendiri atau dengan Rambu Lalu Lintas tertentu.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Paragraf 6 Marka Kotak Kuning
Pasal 41
(1)
Marka kotak kuning sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (3) huruf e merupakan Marka Jalan berbentuk segi empat berwarna kuning yang berfungsi untuk melarang kendaraan berhenti di suatu area.
Penjelasan: Cukup jelas.
(2)
Marka kotak kuning sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat ditempatkan pada:
a.
persimpangan; atau
Penjelasan: Cukup jelas.
b.
lokasi akses jalan keluar masuk kendaraan tertentu.
Penjelasan: Yang dimaksud dengan "lokasi akses jalan keluar masuk kendaraan tertentu"yang membutuhkan marka kotak kuning antara lain: 1. akses menuju instalasi gawat darurat; 2.akses keluar masuk kendaraan pemadam kebakaran; 3.akses keluar masuk kendaraan petugas penanggulangan huru hara, search and rescue, dan ambulance.
Bagian Keempat Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas
Pasal 42
(1)
Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 huruf c terdiri atas:
Penjelasan: Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas dipasang pada persimpangan dan/atau ruas jalan serta dapat dilengkapi dengan alat pendeteksi kendaraan, kamera, Display Information System (DIS) dan/atau teknologi informasi untuk kepentingan lalu lintas yang menjadi bagian dari sistem Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas terkoordinasi (Area Traffic Control System/ATCS).
a.
lampu tiga warna, untuk mengatur kendaraan;
b.
lampu dua warna, untuk mengatur kendaraan dan/atau Pejalan Kaki; dan
c.
lampu satu warna, untuk memberikan peringatan bahaya kepada Pengguna Jalan.
(2)
Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas dengan tiga warna sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a tersusun secara:
Penjelasan: Cukup jelas.
a.
vertikal berurutan dari atas ke bawah berupa cahaya berwarna merah, kuning, dan hijau; atau
b.
horizontal berurutan dari sudut pandang Pengguna Jalan dari kanan ke kiri berupa cahaya berwarna merah, kuning, dan hijau.
(3)
Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas dengan dua warna sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b tersusun secara vertikal dengan:
Penjelasan: Cukup jelas.
a.
cahaya berwarna merah di bagian atas; dan
b.
cahaya berwarna hijau di bagian bawah.
(4)
Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas dengan satu warna sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c berupa cahaya berwarna kuning kelap kelip atau merah.
Penjelasan: Cukup jelas.
Pasal 43
Lampu tiga warna sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (1) huruf a terdiri atas cahaya berwarna:
a.
merah, dipergunakan untuk menyatakan kendaraan harus berhenti dan tidak boleh melewati marka melintang yang berfungsi sebagai garis henti;
b.
kuning yang menyala sesudah cahaya berwarna hijau padam, dipergunakan untuk menyatakan bahwa cahaya berwarna merah akan segera menyala, kendaraan bersiap untuk berhenti;
c.
kuning yang menyala bersama dengan cahaya berwarna merah, dipergunakan untuk menyatakan bahwa lampu hijau akan segera menyala, kendaraan dapat bersiap-siap untuk bergerak; dan
d.
hijau, dipergunakan untuk menyatakan kendaraan berjalan.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Bagian Kelima Alat Penerangan Jalan
Pasal 44
(1)
Alat penerangan jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 huruf d merupakan lampu penerangan jalan yang berfungsi untuk memberi penerangan pada Ruang Lalu Lintas.
Penjelasan: Alat penerangan jalan antara lain berupa lampu penerangan jalan yang dipasang pada median jalan dan/atau di sisi kanan/kiri badan jalan atau lampu penerangan untuk fasilitas Pejalan Kaki dan pesepeda.
(2)
Lampu penerangan jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan teknis dan persyaratan keselamatan.
Penjelasan: Cukup jelas.
(3)
Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan teknis dan persyaratan keselamatan lampu penerangan jalan diatur dengan Peraturan Menteri.
Penjelasan: Cukup jelas.
Bagian Keenam Alat Pengendali dan Pengaman Pengguna Jalan
Pasal 45
(1)
Alat pengendali Pengguna Jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 huruf e digunakan untuk pengendalian atau pembatasan terhadap kecepatan dan ukuran kendaraan pada ruas-ruas jalan.
(2)
Alat pengendali Pengguna Jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a.
alat pembatas kecepatan; dan
b.
alat pembatas tinggi dan lebar.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Pasal 46
(1)
Alat pengaman Pengguna Jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 huruf e digunakan untuk pengamanan terhadap Pengguna Jalan.
Penjelasan: Cukup jelas.
(2)
Alat pengaman Pengguna Jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a.
pagar pengaman;
Penjelasan: Cukup jelas.
b.
cermin tikungan;
Penjelasan: Cukup jelas.
c.
patok lalu lintas (delineator);
Penjelasan: Cukup jelas.
d.
pulau lalu lintas;
Penjelasan: Cukup jelas.
e.
pita penggaduh;
Penjelasan: Cukup jelas.
f.
jalur penghentian darurat; dan
Penjelasan: Yang dimaksud dengan "jalur penghentian darurat" adalah jalur yang disediakan pada jalan dengan turunan tajam untuk keperluan darurat atau untuk memperlambat laju kendaraan bila mengalami gangguan sistem rem.
g.
pembatas lalu lintas.
Penjelasan: Yang dimaksud dengan "pembatas lalu lintas" antara lain berupa kerucut lalu lintas, traffic barrier, separator, concrete barrier.
Bagian Ketujuh Alat Pengawasan dan Pengamanan Jalan
Paragraf 1 Umum
Pasal 47
Alat pengawasan dan pengamanan jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 huruf f berfungsi untuk melakukan pengawasan terhadap angkutan barang dalam memenuhi ketentuan:
a.
tata cara pemuatan;
b.
daya angkut;
c.
dimensi kendaraan; dan
d.
kelas jalan.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Pasal 48
(1)
Tata cara pemuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 huruf a dilaksanakan dengan ketentuan:
a.
muatan diletakkan pada ruang muatan mobil barang sesuai rancang bangun kendaraan; dan
b.
memperhatikan distribusi muatan pada setiap sumbu sesuai daya dukungnya.
(2)
Daya angkut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 huruf b yaitu berdasarkan jumlah berat yang diizinkan dan/atau jumlah berat kombinasi yang diperbolehkan yang ditentukan berdasarkan rancangannya.
(3)
Dimensi kendaraan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 huruf c mengacu pada dimensi utama kendaraan bermotor yang meliputi panjang, lebar, tinggi, julur depan, dan julur belakang yang telah ditetapkan sesuai bukti lulus uji.
(4)
Kelas jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 huruf d mengacu pada ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Pasal 49
Alat pengawasan dan pengamanan jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 terdiri atas:
a.
alat penimbangan yang dipasang secara tetap; dan
b.
alat penimbangan yang dapat dipindahkan.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Paragraf 2 Alat Penimbangan yang Dipasang Secara Tetap
Pasal 50
(1)
Alat penimbangan yang dipasang secara tetap sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 huruf a dilengkapi dengan peralatan utama dan peralatan penunjang.
(2)
Peralatan utama dan peralatan penunjang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan teknis yang ditetapkan oleh Menteri.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Pasal 51
Alat penimbangan yang dipasang secara tetap sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 harus ditera secara berkala paling sedikit 1 (satu) tahun sekali dan/atau pasca perbaikan.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Paragraf 3 Alat Penimbangan yang Dapat Dipindahkan
Pasal 52
(1)
Alat penimbangan yang dapat dipindahkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 huruf b digunakan untuk penimbangan kendaraan di jalan dengan lokasi berpindah-pindah.
(2)
Alat penimbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan teknis yang ditetapkan oleh Menteri.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Pasal 53
Alat penimbangan yang dapat dipindahkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 harus ditera secara berkala paling sedikit 1 (satu) tahun sekali dan/atau pasca perbaikan.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Bagian Kedelapan Fasilitas untuk Sepeda, Pejalan Kaki, dan Penyandang Cacat
Pasal 54
(1)
Jalan dilengkapi dengan fasilitas untuk sepeda, Pejalan Kaki, dan penyandang cacat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 huruf g.
(2)
Fasilitas untuk sepeda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa lajur dan/atau jalur sepeda yang disediakan secara khusus untuk pesepeda dan/atau dapat digunakan bersama-sama dengan Pejalan Kaki.
(3)
Fasilitas Pejalan Kaki sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan fasilitas yang disediakan secara khusus untuk Pejalan Kaki dan/atau dapat digunakan bersama-sama dengan pesepeda.
(4)
Fasilitas penyandang cacat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan fasilitas khusus yang disediakan untuk penyandang cacat pada perlengkapan jalan tertentu sesuai pertimbangan teknis dan kebutuhan Pengguna Jalan.
(5)
Fasilitas untuk sepeda, Pejalan Kaki, dan penyandang cacat sebagaimana dimaksud pada ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) harus dilengkapi dengan paling sedikit:
a.
Rambu Lalu Lintas yang diberi tanda-tanda khusus untuk penyandang cacat;
b.
Marka Jalan yang diberi tanda-tanda khusus untuk penyandang cacat;
c.
Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas yang diberi tanda-tanda khusus untuk penyandang cacat; dan/atau
d.
alat penerangan jalan.
(6)
Fasilitas Pejalan Kaki sebagaimana dimaksud pada ayat (3) meliputi:
a.
tempat penyeberangan yang dinyatakan dengan Marka Jalan, Rambu Lalu Lintas, dan/atau Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas;
b.
trotoar;
c.
jembatan penyeberangan; dan/atau
e.
terowongan penyeberangan.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Bagian Kesembilan Fasilitas Pendukung Kegiatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Yang
Pasal 55
Fasilitas pendukung kegiatan lalu lintas dan angkutan jalan yang berada di jalan dan di luar badan jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 huruf h meliputi:
a.
jalur khusus angkutan umum;
Penjelasan: Cukup jelas.
b.
jalur/lajur sepeda motor;
Penjelasan: Cukup jelas.
c.
jalur/lajur kendaraan tidak bermotor;
Penjelasan: Cukup jelas.
d.
parkir pada badan jalan;
Penjelasan: Cukup jelas.
e.
fasilitas perpindahan moda dalam rangka integrasi pelayanan intra dan antar moda; dan/atau
Penjelasan: Yang dimaksud dengan "fasilitas perpindahan moda" antara lain berupa Terminal atau tempat bus stop.
f.
tempat istirahat.
Penjelasan: Cukup jelas.
Bagian Kesepuluh Pengaturan Lebih Lanjut
Pasal 56
Ketentuan lebih lanjut mengenai spesifikasi teknis perlengkapan jalan diatur dengan Peraturan Menteri.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Pasal 57
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penempatan, pemasangan, pemeliharaan, dan penghapusan perlengkapan jalan diatur dengan Peraturan Menteri
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
BAB V
TERMINAL
Bagian Kesatu Umum
Pasal 58
(1)
Untuk menunjang kelancaran perpindahan orang dan/atau barang serta keterpaduan intramoda dan antarmoda, di tempat tertentu dapat dibangun dan diselenggarakan Terminal.
(2)
Terminal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa Terminal penumpang dan/atau Terminal barang.
(3)
Terminal penumpang dan/atau Terminal barang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan bagian dari Simpul Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan sebagai perwujudan dari rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Bagian Kedua Terminal Penumpang
Pasal 59
(1)
Untuk mengatur kedatangan dan keberangkatan, menaikkan dan menurunkan orang, serta perpindahan moda angkutan yang terpadu dan pengawasan angkutan diselenggarakan Terminal penumpang.
(2)
Terminal penumpang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan:
a.
lokasi;
b.
teknis; dan
c.
pelayanan.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Pasal 60
(1)
Terminal penumpang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 menurut pelayanannya dikelompokkan dalam tipe yang terdiri atas
a.
Terminal penumpang tipe A;
b.
Terminal penumpang tipe B; dan
c.
Terminal penumpang tipe C.
(2)
Terminal penumpang tipe A sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a merupakan Terminal yang fungsi utamanya melayani kendaraan umum untuk angkutan lintas batas negara dan/atau angkutan antarkota antarprovinsi.
(3)
Terminal sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dipadukan dengan pelayanan angkutan antarkota dalam provinsi, angkutan perkotaan, dan/atau angkutan perdesaan.
(4)
Terminal penumpang tipe B sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b merupakan Terminal yang fungsi utamanya melayani kendaraan umum untuk angkutan antarkota dalam provinsi.
(5)
Terminal sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dipadukan dengan pelayanan angkutan perkotaan dan/atau angkutan perdesaan.
(6)
Terminal penumpang tipe C sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c merupakan Terminal yang fungsi utamanya melayani kendaraan umum untuk angkutan perkotaan atau perdesaan.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Pasal 61
(1)
Untuk keterpaduan antar moda angkutan dan kemudahan akses pada Simpul transportasi yang meliputi bandar udara, pelabuhan, dan stasiun kereta api, serta pusat kegiatan, dapat dilengkapi dengan fasilitas perpindahan moda angkutan umum.
(2)
Fasilitas perpindahan moda angkutan umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikelola oleh penyelenggara bandar udara, pelabuhan, dan stasiun kereta api, serta pusat kegiatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Pasal 62
(1)
Terminal penumpang tipe A dan tipe B sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 ayat (1) huruf a dan huruf b diklasifikasikan ke dalam kelas berdasarkan intensitas kendaraan yang dilayani.
(2)
Masing-masing tipe Terminal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas 3 (tiga) kelas, yaitu:
a.
kelas 1;
b.
kelas 2; dan
c.
kelas 3.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Pasal 63
(1)
Tipe dan kelas Terminal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 dan Pasal 62 ditetapkan oleh:
a.
Menteri, untuk Terminal tipe A;
b.
gubernur, untuk Terminal tipe B;
c.
bupati/walikota, untuk Terminal tipe C; dan
d.
gubernur, untuk Terminal tipe C Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta.
(2)
Tipe dan kelas Terminal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berubah sesuai dengan kebutuhan pelayanan angkutan.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Pasal 64
Klasifikasi Terminal sebagaimana dimaksud Pasal 62 ditetapkan melalui kajian teknis terhadap intensitas kendaraan yang dilayani meliputi:
a.
tingkat permintaan angkutan;
b.
keterpaduan pelayanan angkutan;
c.
jumlah trayek;
d.
jenis pelayanan angkutan; dan
e.
fasilitas utama dan fasilitas penunjang Terminal.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Pasal 65
(1)
Dalam penetapan lokasi Terminal penumpang harus memperhatikan rencana kebutuhan Simpul Terminal.
(2)
Simpul Terminal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh:
a.
Menteri, untuk Simpul Terminal penumpang tipe A;
b.
gubernur, untuk Simpul Terminal penumpang tipe B;
c.
bupati/walikota, untuk Simpul Terminal penumpang tipe C; dan
d.
gubernur, untuk Simpul Terminal penumpang tipe C Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta.
(3)
Lokasi Terminal penumpang harus terletak pada Simpul Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang diperuntukkan bagi pergantian antar moda dan/atau intermoda pada suatu wilayah tertentu.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Pasal 66
Lokasi Terminal penumpang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 65 ditetapkan oleh:
a.
Menteri, untuk Terminal penumpang tipe A;
b.
gubernur, untuk Terminal penumpang tipe B;
c.
bupati/walikota, untuk Terminal penumpang tipe C; dan
d.
gubernur, untuk Terminal penumpang tipe C Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Pasal 67
Lokasi Terminal penumpang sebagaimana dimaksud Pasal 66 ditetapkan dengan memperhatikan:
a.
tingkat aksesibilitas pengguna jasa angkutan;
Penjelasan: Yang dimaksud dengan "tingkat aksesibilitas pengguna jasa angkutan" adalah dalam penetapan lokasi Terminal mudah dijangkau dari aspek waktu dan biaya yang memenuhi kriteria: 1. tersedia pelayanan angkutan umum yang memadai; 2.berada pada pusat kegiatan dan/atau pusat bangkitan perjalanan angkutan orang; dan/atau 3. berada pada lokasi yang memungkinkan perpindahan moda transportasi.
b.
kesesuaian lahan dengan rencana tata ruang wilayah nasional, rencana tata ruang wilayah provinsi, rencana tata ruang wilayah kabupaten/kota;
Penjelasan: Cukup jelas.
c.
kesesuaian lahan dengan rencana pengembangan dan/atau kinerja jaringan jalan dan jaringan trayek;
Penjelasan: Cukup jelas.
d.
kesesuaian dengan rencana pengembangan dan/atau pusat kegiatan;
Penjelasan: Cukup jelas.
e.
keserasian dan keseimbangan dengan kegiatan lain;
Penjelasan: Cukup jelas.
f.
permintaan angkutan;
Penjelasan: Cukup jelas.
g.
kelayakan teknis, finansial, dan ekonomi;
Penjelasan: Cukup jelas.
h.
keamanan dan keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan; dan
Penjelasan: Cukup jelas.
i.
kelestarian fungsi lingkungan hidup.
Penjelasan: Yang dimaksud dengan "kelestarian fungsi lingkungan hidup" adalah terpeliharanya kelangsungan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup.
Pasal 68
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara dan kriteria penetapan Simpul dan lokasi Terminal penumpang diatur dengan Peraturan Menteri.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Pasal 69
(1)
Setiap Penyelenggara Terminal penumpang wajib menyediakan fasilitas Terminal yang memenuhi persyaratan keselamatan dan keamanan.
Penjelasan: Cukup jelas.
(2)
Fasilitas Terminal penumpang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
Penjelasan: Cukup jelas.
a.
fasilitas utama; dan
b.
fasilitas penunjang.
(3)
Fasilitas utama sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a terdiri atas:
a.
jalur keberangkatan;
Penjelasan: Cukup jelas.
b.
jalur kedatangan;
Penjelasan: Cukup jelas.
c.
ruang tunggu penumpang, pengantar, dan/atau penjemput;
Penjelasan: Cukup jelas.
d.
tempat naik turun penumpang;
Penjelasan: Cukup jelas.
e.
tempat parkir kendaraan;
Penjelasan: Cukup jelas.
f.
fasilitas pengelolaan lingkungan hidup;
Penjelasan: Cukup jelas.
g.
perlengkapan jalan;
Penjelasan: Cukup jelas.
h.
media informasi;
Penjelasan: Yang dimaksud dengan"media informasi" adalah media yang memuat informasi mengenai antara lain: 1. tarif angkutan; 2. petunjukjurusan; 3. denah dan/atau tata letak fasilitas Terminal; 4. jadwal keberangkatan angkutan umum; 5. jadwal kedatangan angkutan umum; 6. peta dan/atau informasi rute pelayanan angkutan umum; dan 7. informasi keadaan darurat keamanan dan keselamatan.
i.
kantor penyelenggara Terminal; dan
Penjelasan: Cukup jelas.
j.
loket penjualan tiket.
Penjelasan: Cukup jelas.
(4)
Fasilitas utama sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang berupa jalur keberangkatan, jalur kedatangan, tempat naik turun penumpang, dan tempat parkir kendaraan dapat ditempatkan dalam satu area.
Penjelasan: Penempatan dalam satu area dimaksudkan untuk efisiensi dan efektivitas pergerakan kendaraan dan penumpang di dalam Terminal.
(5)
Luasan, desain, dan jumlah fasilitas utama yang di tempatkan dalam satu area sebagaimana dimaksud pada ayat (4) harus mempertimbangkan:
Penjelasan: Cukup jelas.
a.
kebutuhan pelayanan angkutan orang;
b.
karakteristik pelayanan;
c.
pengaturan waktu tunggu kendaraan;
d.
pengaturan pola parkir; dan
e.
dimensi kendaraan.
Pasal 70
(1)
Fasilitas penunjang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69 ayat (2) huruf b merupakan fasilitas yang disediakan di Terminal sebagai penunjang kegiatan pokok Terminal.
Penjelasan: Cukup jelas.
(2)
Fasilitas penunjang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa:
Penjelasan: Cukup jelas.
a.
fasilitas penyandang cacat dan ibu hamil atau menyusui;
b.
pos kesehatan;
c.
fasilitas kesehatan;
d.
fasilitas peribadatan;
e.
pos polisi;
f.
alat pemadam kebakaran; dan
g.
fasilitas umum.
(3)
Fasilitas umum sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf g meliputi:
Penjelasan: Cukup jelas.
a.
toilet;
b.
rumah makan;
c.
fasilitas telekomunikasi;
d.
tempat istirahat awak kendaraan;
e.
fasilitas pereduksi pencemaran udara dan kebisingan;
f.
fasilitas pemantau kualitas udara dan gas buang;
g.
fasilitas kebersihan;
h.
fasilitas perbaikan ringan kendaraan umum;
i.
fasilitas perdagangan, pertokoan; dan/atau
j.
fasilitas penginapan.
(4)
Jumlah dan jenis fasilitas penunjang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disesuaikan dengan tipe dan klasifikasi Terminal.
Penjelasan: Cukup jelas.
(5)
Penyediaan dan pengelolaan fasilitas umum sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat dikerjasamakan dengan pihak ketiga.
Penjelasan: Cukup jelas.
(6)
Kerjasama sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Penjelasan: Yang dimaksud dengan "ketentuan peraturan perundang-undangan" adalah peraturan perundang-undangan mengenai pengelolaan barang milik negara/daerah.
Pasal 71
(1)
Dalam penyediaan fasilitas bagi penumpang penyandang cacat dan ibu hamil atau menyusui sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70 ayat (2) huruf a, luasan dan jenisnya disesuaikan dengan kebutuhan.
(2)
Fasilitas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dilengkapi dengan rambu dan/atau petunjuk.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Pasal 72
Ketentuan lebih lanjut mengenai luas, desain, dan jumlah fasilitas utama dan fasilitas penunjang untuk masing-masing tipe dan kelas Terminal ditetapkan oleh Menteri.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Pasal 73
(1)
Lingkungan kerja Terminal merupakan daerah yang diperuntukkan bagi fasilitas Terminal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69.
Penjelasan: Yang termasuk lingkungan kerja Terminal dalam ketentuan ini adalah jalan akses keluar masuk Terminal.
(2)
Pengaturan dan pemanfaatan daerah lingkungan kerja Terminal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi tanggung jawab Penyelenggara Terminal.
Penjelasan: Cukup jelas.
(3)
Lingkungan kerja Terminal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikelola oleh Penyelenggara Terminal dan digunakan untuk pelaksanaan pembangunan, pengembangan, dan pengoperasian fasilitas Terminal.
Penjelasan: Cukup jelas.
(4)
Lingkungan kerja Terminal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan peraturan daerah kabupaten/kota dan khusus Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta ditetapkan dengan peraturan daerah provinsi.
Penjelasan: Cukup jelas.
(5)
Lingkungan kerja Terminal harus dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk kegiatan penyelenggaraan Terminal.
Penjelasan: Cukup jelas.
Pasal 74
(1)
Untuk kemudahan pengaturan naik turun penumpang, perpindahan moda angkutan, keterpaduan, dan pengawasan angkutan orang, pada lokasi tertentu dapat dibangun Terminal penumpang.
Penjelasan: Cukup jelas.
(2)
Kebutuhan luas lahan untuk pembangunan Terminal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus disesuaikan dengan perkiraan permintaan angkutan orang.
Penjelasan: Cukup jelas.
(3)
Pembangunan Terminal penumpang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilengkapi dengan:
a.
rancang bangun;
Penjelasan: Cukup jelas.
b.
buku kerja rancang bangun;
Penjelasan: Cukup jelas.
c.
rencana induk Terminal;
Penjelasan: Cukup jelas.
d.
analisis dampak lalu lintas; dan
Penjelasan: Cukup jelas.
e.
izin lingkungan.
Penjelasan: Izin lingkungan merupakan keputusan final dari proses Amdal atau UKL-UPL yang menyatakan Terminal penumpang tersebut layak atau dari aspek lingkungan hidup sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.
Pasal 75
(1)
Rancang bangun Terminal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 74 ayat (3) huruf a merupakan dokumen yang memuat desain tata letak fasilitas Terminal.
(2)
Buku kerja rancang bangun Terminal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 74 ayat (3) huruf b merupakan dokumen teknis yang memuat rancangan detail desain Terminal yang meliputi paling sedikit struktur bangunan, mekanikal elektrikal, lansekap, arsitektural, serta rencana anggaran biaya.
(3)
Rancang bangun dan buku kerja rancang bangun Terminal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) digunakan sebagai dokumen acuan dalam pembangunan Terminal.
(4)
Pembuatan rancang bangun dan buku kerja rancang bangun Terminal penumpang sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus memperhatikan:
a.
prakiraan volume angkutan yang dilayani;
b.
sinkronisasi tata letak fasilitas Terminal penumpang;
c.
pola pergerakan kendaraan dan pola pergerakan orang di dalam Terminal;
d.
manajemen dan rekayasa lalu lintas di dalam dan di sekitar Terminal; dan
e.
arsitektural dan lansekap Terminal.
(5)
Penyusunan rancang bangun Terminal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dibuat sehingga Terminal dapat bermanfaat semaksimal mungkin untuk pelayanan angkutan orang.
(6)
Pedoman penyusunan rancang bangun Terminal penumpang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Menteri.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Pasal 76
(1)
Rencana induk Terminal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 74 ayat (3) huruf c merupakan dokumen rencana pengembangan setiap Terminal penumpang di masa yang akan datang.
Penjelasan: Cukup jelas.
(2)
Rencana induk Terminal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat paling sedikit:
a.
kondisi saat ini;
Penjelasan: Yang dimaksud dengan "kondisi saat ini" adalah kondisi yang meliputi antara lain kondisi lahan, pelayanan Terminal, fasilitas Terminal, sirkulasi lalu lintas.
b.
rencana pengembangan fasilitas utama;
Penjelasan: Cukup jelas.
c.
rencana pengembangan fasilitas penunjang;
Penjelasan: Cukup jelas.
d.
perubahan pola pergerakan kendaraan dan orang di dalam Terminal;
Penjelasan: Cukup jelas.
e.
perubahan pola pergerakan lalu lintas di luar Terminal; dan
Penjelasan: Cukup jelas.
f.
Perubahan pemanfaatan tata ruang di sekitar Terminal.
Penjelasan: Cukup jelas.
(3)
Rencana induk Terminal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun oleh pemerintah kabupaten/kota atau pemerintah provinsi untuk Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta.
Penjelasan: Cukup jelas.
(4)
Masa berlaku rencana induk Terminal sebagaimana dimaksud pada ayat (3) untuk jangka waktu 20 (dua puluh) tahun.
Penjelasan: Cukup jelas.
Pasal 77
Analisis dampak lalu lintas dan izin lingkungan Terminal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 74 ayat (3) huruf d dan huruf e disusun dan diterbitkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Pasal 78
(1)
Pembangunan Terminal penumpang merupakan tanggung jawab Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah.
Penjelasan: Cukup jelas.
(2)
Pembangunan Terminal penumpang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikerjasamakan dengan pihak ketiga sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Penjelasan: Yang dimaksud dengan "pihak ketiga" adalah badan hukum Indonesia, badan usaha milik negara, dan badan usaha milik daerah.
Pasal 79
(1)
Pengoperasian Terminal penumpang dilaksanakan oleh pemerintah kabupaten/kota atau pemerintah provinsi untuk Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta.
(2)
Pengoperasian Terminal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi kegiatan:
a.
perencanaan;
b.
pelaksanaan; dan
c.
pengawasan operasional.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Pasal 80
(1)
Kegiatan perencanaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 79 ayat (2) huruf a meliputi rencana:
Penjelasan: Cukupjelas.
a.
penataan fasilitas utama dan fasilitas penunjang Terminal;
b.
pengaturan lalu lintas di dalam dan di sekitar Terminal;
c.
pengaturan kedatangan dan keberangkatan kendaraan bermotor umum;
d.
pengaturan petugas di Terminal; dan
e.
pengaturan parkir kendaraan.
(2)
Kegiatan pelaksanaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 79 ayat (2) huruf b meliputi kegiatan:
Penjelasan: Cukup jelas.
a.
pelaksanaan rencana sebagaimana dimaksud ayat (1);
b.
pendataan kinerja Terminal, meliputi:
1.
pencatatan jumlah kendaraan dan penumpang yang datang dan berangkat;
2.
pencatatan waktu kedatangan dan keberangkatan setiap kendaraan bermotor umum;
3.
pencatatan jumlah pelanggaran; dan
4.
pencatatan faktor muat (load factor);
c.
pemungutan jasa pelayanan Terminal penumpang;
d.
pemberitahuan waktu keberangkatan kendaraan umum kepada penumpang dan informasi lainnya; dan
e.
pengaturan arus lalu lintas di daerah lingkungan kerja Terminal.
(3)
Kegiatan pengawasan operasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 79 ayat (2) huruf c meliputi:
a.
pemeriksaan terhadap kelengkapan administrasi kendaraan, meliputi:
Penjelasan: Cukup jelas.
1.
kartu pengawasan terhadap keabsahan, masa berlaku, kesesuaian jam perjalanan dan asal tujuan perjalanan;
2.
dokumen perizinan kendaraan yang digantikan jika kendaraan cadangan;
3.
buku uji kendaraan terhadap keabsahan, masa berlaku, peruntukkan; dan
4.
pemeriksaan manifes penumpang terhadap jumlah penumpang.
b.
pemeriksaan fisik kendaraan bermotor umum, meliputi:
Penjelasan: Cukupjelas.
1.
persyaratan teknis dan laik jalan;
2.
fasilitas tanggap darurat kendaraan bermotor umum;
3.
fasilitas penyandang cacat, manusia usia lanjut, anak-anak, dan wanita hamil; dan
4.
identitas kendaraan, meliputi nama perusahaan, stiker dan/atau papan trayek, dan jenis pelayanan.
c.
pemeriksaan awak kendaraan bermotor umum, meliputi:
1.
pemeriksaan tanda pengenal dan seragam;
Penjelasan: Cukup jelas.
2.
pemeriksaan kondisi kesehatan dan fisik; dan
Penjelasan: Yang dimaksud dengan"pemeriksaan kondisi kesehatan dan fisik” termasuk pemeriksaan kadar alkohol, narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya.
3.
jam kerja pengemudi.
Penjelasan: Cukup jelas.
d.
pengawasan ketertiban Terminal, meliputi:
Penjelasan: Cukup jelas.
1.
pemanfaatan fasilitas utama Terminal;
2.
pemanfaatan fasilitas penunjang Terminal;
3.
ketertiban dan kebersihan fasilitas umum; dan
4.
keamanan di dalam Terminal.
Pasal 81
(1)
Sebelum Terminal dioperasikan wajib dilakukan uji coba dan sosialisasi paling lambat 1 (satu) bulan sebelum dinyatakan beroperasi.
(2)
Sebelum dilakukan uji coba sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pemerintah kabupaten/kota atau gubernur untuk Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta wajib menyampaikan rencana pengoperasian kepada:
a.
Menteri untuk Terminal penumpang tipe A; dan
b.
gubernur, untuk Terminal penumpang tipe B.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Pasal 82
(1)
Pengoperasian Terminal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 81 dipimpin oleh Kepala Terminal.
(2)
Kepala Terminal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memiliki kualifikasi:
a.
kompetensi manajemen pengelolaan Terminal melalui pendidikan di bidang Terminal; dan
b.
pengalaman bertugas di bidang lalu lintas dan angkutan jalan paling sedikit 3 (tiga) tahun.
(3)
Kepala Terminal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibantu oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil bidang lalu lintas dan angkutan jalan dan petugas Terminal lainnya.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Pasal 83
(1)
Penyelenggara Terminal penumpang wajib memberikan pelayanan jasa Terminal sesuai dengan standar pelayanan minimal.
Penjelasan: Yang dimaksud dengan "pelayanan jasa Terminal" antara lain: a. jasa penggunaan tempat tunggu dan istirahat kendaraan umum; b. jasa penggunaan fasilitas parkir kendaraan pengantar dan/atau taksi;dan c. jasa penggunaan tempat tunggu penumpang (peron).
(2)
Standar pelayanan minimal Terminal penumpang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit memuat:
Penjelasan: Cukup jelas.
a.
pelayanan fasilitas utama dan fasilitas penunjang sesuai dengan tipe dan kelas Terminal; dan
b.
standar operasional prosedur pelayanan Terminal.
Pasal 84
Penyelenggara Terminal penumpang wajib melaksanakan sistem informasi manajemen Terminal.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Pasal 85
(1)
Pemanfaatan fasilitas utama dan fasilitas penunjang Terminal penumpang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69 ayat (2) dapat dipungut jasa pelayanan.
(2)
Tata cara pemungutan, besarnya pungutan, serta penggunaan hasil pungutan Terminal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Pasal 86
(1)
Penyelenggara Terminal penumpang wajib melakukan pemeliharaan.
Penjelasan: Cukup jelas.
(2)
Pemeliharaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi kegiatan pemeliharaan terhadap fasilitas utama dan fasilitas penunjang.
Penjelasan: Yang dimaksud dengan "kegiatan pemeliharaan terhadap fasilitas utama dan fasilitas penunjang" antara lain: a. menjaga keutuhan dan kebersihan Terminal; b. menjaga keutuhan dan kebersihan pelataran Terminal serta perawatan rambu, marka, dan papan informasi; c. merawat saluran-saluran air; d. merawat instalasi listrik dan lampu penerangan; e. merawat fasilitas telekomunikasi; dan f. merawat sistem hydrant serta fasilitas dan alat pemadam kebakaran.
Pasal 87
(1)
Untuk mempertahankan kinerja Terminal sesuai standar pelayanan minimal dilakukan penilaian kinerja penyelenggaraan Terminal.
(2)
Penilaian kinerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi penilaian kinerja sumber daya manusia, fasilitas utama, fasilitas penunjang, dan standar operasional prosedur Terminal.
(3)
Penilaian kinerja sebagaimana dimaksud pada ayat (2) paling sedikit dilakukan 2 (dua) tahun sekali.
(4)
Penilaian kinerja sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan oleh:
a.
Menteri untuk Terminal penumpang tipe A;
b.
gubernur untuk Terminal penumpang tipe B; dan
c.
bupati/walikota untuk Terminal penumpang tipe C.
(5)
Hasil kegiatan penilaian kinerja sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dipergunakan sebagai tindakan korektif serta evaluasi tipe dan kelas Terminal penumpang.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Pasal 88
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara, persyaratan teknis, dan sumber daya manusia penyelenggaraan Terminal penumpang diatur dengan Peraturan Menteri.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Bagian Ketiga Terminal Barang
Paragraf 1 Umum
Pasal 89
(1)
Terminal barang merupakan tempat untuk melakukan kegiatan bongkar muat barang, perpindahan intramoda dan antarmoda angkutan barang, konsolidasi barang/pusat kegiatan logistik, dan/atau tempat parkir mobil barang.
Penjelasan: Yang dimaksud dengan "konsolidasi barang" adalah kegiatan pengumpulan barang dari pusat-pusat produksi sebelum didistribusikan ke tempat tujuan. Yang dimaksud dengan "tempat parkir mobil barang" adalah tempat yang disediakan untuk memarkir kendaraan angkutan barang.
(2)
Terminal barang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat digunakan untuk menunjang kegiatan ekspor dan impor.
Penjelasan: Cukup jelas.
(3)
Terminal barang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan sebagai tempat kegiatan pengawasan dan pengendalian angkutan barang.
Penjelasan: Yang dimaksud dengan"pengawasan dan pengendalian angkutan barang" meliputi pemeriksaan persyaratan teknis dan laik jalan, dokumen angkutan barang, dan tata cara pemuatan barang.
Pasal 90
(1)
Terminal barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 89 terdiri atas:
a.
Terminal barang untuk umum; dan
b.
Terminal barang untuk kepentingan sendiri.
(2)
Terminal barang untuk umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a merupakan Terminal yang digunakan umum untuk penyelenggaraan angkutan barang.
(3)
Terminal barang untuk kepentingan sendiri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b merupakan Terminal yang digunakan untuk kegiatan angkutan barang sendiri dalam menunjang kegiatan pokoknya.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Paragraf 2 Terminal Barang Untuk Umum
Pasal 91
(1)
Penetapan lokasi Terminal barang untuk umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 90 ayat (1) huruf a harus memperhatikan:
a.
tingkat aksesibilitas pengguna jasa angkutan;
Penjelasan: Cukup jelas.
b.
kesesuaian lahan dengan rencana tata ruang;
Penjelasan: Cukup jelas.
c.
kelas jalan;
Penjelasan: Cukup jelas.
d.
kesesuaian dengan rencana pengembangan dan/atau kinerja jaringan jalan dan jaringan lintas;
Penjelasan: Cukup jelas.
e.
kesesuaian dengan rencana pengembangan dan/atau pusat kegiatan;
Penjelasan: Yang dimaksud dengan"pusat kegiatan"antara lain: 1.kegiatan perdagangan; 2.kegiatan perkantoran; 3.kegiatan industri; 4.fasilitas pendidikan; 5.fasilitas pelayanan umum; dan/atau 6.kegiatan lain yang dapat menimbulkan bangkitan dan/atau tarikan lalu lintas.
f.
kesesuaian dengan sistem logistik nasional;
Penjelasan: Cukup jelas.
g.
permintaan angkutan barang;
Penjelasan: Cukup jelas.
h.
pola distribusi angkutan barang;
Penjelasan: Cukup jelas.
i.
kelayakan teknis, finansial, dan ekonomi;
Penjelasan: Cukup jelas.
j.
keamanan dan keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan; dan/atau
Penjelasan: Cukup jelas.
k.
kelestarian fungsi lingkungan hidup.
Penjelasan: Yang dimaksud dengan "kelestarian fungsi lingkungan hidup" adalah terpeliharanya kelangsungan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup.
(2)
Lokasi Terminal barang untuk umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Menteri.
Penjelasan: Cukup jelas.
Pasal 92
(1)
Setiap Penyelenggara Terminal barang untuk umum wajib menyediakan fasilitas Terminal yang memenuhi persyaratan keselamatan dan keamanan.
Penjelasan: Cukup jelas.
(2)
Fasilitas Terminal barang untuk umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
Penjelasan: Cukup jelas.
a.
fasilitas utama; dan
b.
fasilitas penunjang.
(3)
Fasilitas utama sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a terdiri atas:
a.
jalur keberangkatan;
Penjelasan: Cukup jelas.
b.
jalur kedatangan;
Penjelasan: Cukup jelas.
c.
tempat parkir kendaraan;
Penjelasan: Cukup jelas.
d.
fasilitas pengelolaan kualitas lingkungan hidup;
Penjelasan: Cukup jelas.
e.
perlengkapan jalan;
Penjelasan: Cukup jelas.
f.
media informasi;
Penjelasan: Yang dimaksud dengan "media informasi" adalah papan informasi yang memuat antara lain: 1.tarif; 2.petunjuk jurusan; 3. denah dan/atau tata letak fasilitas umum; 4.jadwal keberangkatan angkutan umum; 5.jadwal kedatangan angkutan umum; 6. peta dan/atau informasi rute pelayanan angkutan umum; dan 7. informasi keadaan darurat keamanan dan keselamatan.
g.
kantor penyelenggara Terminal;
Penjelasan: Cukup jelas.
h.
loket;
Penjelasan: Cukup jelas.
i.
fasilitas dan tempat bongkar muat barang;
Penjelasan: Cukup jelas.
j.
fasilitas penyimpanan barang;
Penjelasan: Cukup jelas.
k.
fasilitas pergudangan;
Penjelasan: Cukup jelas. Huruf1 Cukup jelas.
l.
fasilitas pengepakan barang; dan/atau
m.
fasilitas penimbangan.
Penjelasan: Cukup jelas.
(4)
Dalam hal Terminal barang yang digunakan untuk kegiatan ekspor dan impor, selain memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3), wajib disediakan fasilitas utama berupa:
Penjelasan: Cukup jelas.
a.
fasilitas kepabeanan;
b.
fasilitas imigrasi;
c.
fasilitas karantina; dan
d.
fasilitas lainnya yang terkait ekspor dan impor.
(5)
Fasilitas penunjang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b dapat berupa:
Penjelasan: Cukup jelas.
a.
pos kesehatan;
b.
fasilitas kesehatan;
c.
fasilitas peribadatan;
d.
pos polisi;
e.
alat pemadam kebakaran; dan/atau
f.
fasilitas umum.
(6)
Fasilitas umum sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf f meliputi:
Penjelasan: Cukup jelas.
a.
toilet;
b.
rumah makan;
c.
fasilitas telekomunikasi;
d.
tempat istirahat awak kendaraan;
e.
fasilitas pereduksi pencemaran udara dan lingkungan;
f.
fasilitas alat pemantau kualitas udara dan emisi gas buang;
g.
fasilitas kebersihan;
h.
fasilitas perdagangan, industri, pertokoan; dan/atau
i.
fasilitas penginapan.
Pasal 93
Ketentuan lebih lanjut mengenai luas, desain, dan jumlah fasilitas utama dan fasilitas penunjang Terminal barang untuk umum ditetapkan oleh Menteri.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Pasal 94
(1)
Penyelenggaraan Terminal barang untuk umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 90 ayat (1) huruf a diselenggarakan oleh pemerintah dan/atau pihak ketiga.
Penjelasan: Cukup jelas.
(2)
Penyelenggaraan Terminal barang untuk umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi kegiatan pelaksanaan pembangunan, pengembangan, dan pengoperasian fasilitas Terminal barang untuk umum.
Penjelasan: Cukup jelas.
(3)
Pihak ketiga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah, dan swasta sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Penjelasan: Yang dimaksud dengan "ketentuan peraturan perundang-undangan" adalah peraturan perundang-undangan mengenai pengelolaan barang milik negara/daerah.
Pasal 95
(1)
Pengoperasian Terminal barang untuk umum wajib dilengkapi sistem informasi Terminal barang untuk umum dan dilakukan penilaian kinerja.
(2)
Penilaian kinerja sebagaimana dimaksud ayat (1) meliputi penilaian kinerja sumber daya manusia, fasilitas utama, fasilitas penunjang, dan standar operasional prosedur Terminal.
(3)
Penilaian kinerja sebagaimana dimaksud pada ayat (2) paling sedikit dilakukan 2 (dua) tahun sekali.
(4)
Penilaian kinerja sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan oleh:
a.
Menteri, untuk Terminal barang untuk umum yang berakses langsung pada jalan nasional;
b.
gubernur, untuk Terminal barang untuk umum yang berakses langsung pada jalan provinsi; dan
c.
bupati/walikota, untuk Terminal barang umum yang berakses langsung pada jalan kabupaten/kota.
Penjelasan Pasal:
Penilaian kinerja dimaksudkan untuk mempertahankan kinerja Terminal barang untuk umum agar sesuai standar pelayanan minimal, dan sebagai tindakan korektif dari penyelenggaraan Terminal barang untuk umum.
Paragraf 3 Terminal Barang Untuk Kepentingan Sendiri
Pasal 96
(1)
Terminal barang untuk kepentingan sendiri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 90 ayat (1) huruf b dapat dibangun untuk menunjang kegiatan tertentu.
(2)
Kegiatan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi kegiatan bongkar muat barang, konsolidasi barang, penyimpanan barang, dan/atau tempat parkir angkutan barang.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Pasal 97
(1)
Penyelenggaraan Terminal barang untuk kepentingan sendiri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 96 harus memperhatikan penetapan lokasi Terminal barang untuk umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 91.
(2)
Penyelenggaraan Terminal barang untuk kepentingan sendiri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi kegiatan pembangunan, pengembangan, dan pengoperasian.
(3)
Penyelenggaraan Terminal barang untuk kepentingan sendiri sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus mendapat persetujuan Menteri.
(4)
Untuk mendapatkan persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3), penyelenggara mengajukan permohonan dengan melampirkan persyaratan:
a.
data perusahaan yang meliputi akte perusahaan, Nomor Pokok Wajib Pajak, dan izin usaha pokok;
b.
gambar tata letak lokasi Terminal untuk kepentingan sendiri dengan skala yang memadai;
c.
bukti penguasaan tanah;
d.
proposal Terminal untuk kepentingan sendiri;
e.
berita acara hasil peninjauan lokasi oleh tim teknis terpadu;
f.
analisis dampak lalu lintas; dan
g.
izin lingkungan yang diterbitkan oleh pejabat yang berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.
Penjelasan Pasal:
Yang dimaksud dengan"tim teknis terpadu" terdiri atas Pemerintah dan/atau pemerintah daerah dari unsur teknis, hukum, dan perencanaan.
Pasal 98
(1)
Persetujuan atau penolakan permohonan penyelenggaraan Terminal untuk kepentingan sendiri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 97 ayat (4) diberikan oleh Menteri paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak permohonan diterima secara lengkap.
(2)
Dalam hal permohonan ditolak sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Menteri harus menyampaikan penolakan disertai alasan penolakan.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Paragraf 4 Pengaturan Lebih Lanjut
Pasal 99
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara dan persyaratan teknis penyelenggaraan Terminal barang diatur dengan Peraturan Menteri.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
BAB VI
FASILITAS PARKIR UMUM
Bagian Kesatu Fasilitas Parkir Umum di Luar Ruang Milik Jalan
Paragraf 1 Jenis dan Penetapan Lokasi
Pasal 100
(1)
Fasilitas parkir untuk umum di luar ruang milik jalan dapat berupa taman parkir dan/atau gedung parkir.
Penjelasan: Cukup jelas.
(2)
Fasilitas parkir untuk umum di luar ruang milik jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diperuntukkan untuk sepeda dan kendaraan bermotor.
Penjelasan: Cukup jelas.
(3)
Fasilitas parkir sepeda sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus berupa lokasi yang mudah diakses, aman, dan nyaman.
Penjelasan: Cukup jelas.
(4)
Penetapan lokasi fasilitas parkir sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus memperhatikan:
a.
rencana umum tata ruang;
Penjelasan: Cukup jelas.
b.
analisis dampak lalu lintas;
Penjelasan: Cukup jelas.
c.
kemudahan bagi pengguna jasa; dan
Penjelasan: Cukup jelas.
d.
kelestarian fungsi lingkungan hidup.
Penjelasan: Yang dimaksud dengan "kelestarian fungsi lingkungan hidup" adalah terpeliharanya kelangsungan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup.
(5)
Lokasi fasilitas parkir sebagaimana dimaksud pada ayat (4) ditetapkan oleh:
Penjelasan: Cukup jelas.
a.
gubernur untuk lokasi parkir yang berada di wilayah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta;
b.
bupati untuk lokasi parkir yang berada di wilayah administrasi kabupaten; dan
c.
walikota untuk lokasi parkir yang berada di wilayah administrasi kota.
Paragraf 2 Perizinan
Pasal 101
(1)
Penyediaan fasilitas parkir untuk umum di luar ruang milik jalan wajib memiliki izin.
(2)
Penyelenggaraan fasilitas parkir di luar ruang milik Jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan oleh perseorangan warga negara Indonesia atau badan hukum Indonesia berupa:
a.
usaha khusus perparkiran; atau
b.
penunjang usaha pokok.
(3)
Izin penyelenggaraan fasilitas parkir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan oleh:
a.
gubernur untuk fasilitas parkir yang berada di wilayah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta;
b.
bupati untuk fasilitas parkir yang berada di wilayah administrasi kabupaten; dan
c.
walikota untuk fasilitas parkir yang berada di wilayah administrasi kota.
(4)
Dalam penyelenggaraan fasilitas parkir sebagaimana dimaksud pada ayat (3), Menteri, gubernur, bupati, atau walikota melakukan pengawasan secara berkala.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Paragraf 3 Kewajiban Penyelenggara
Pasal 102
(1)
Penyelenggara fasilitas parkir untuk umum di luar ruang milik jalan wajib:
Penjelasan: Cukup jelas.
a.
menyediakan tempat parkir sesuai dengan standar teknis yang ditentukan;
b.
melengkapi fasilitas parkir paling sedikit berupa rambu, marka dan media informasi tarif, waktu, ketersediaan ruang parkir, dan informasi fasilitas parkir khusus;
c.
memastikan kendaraan keluar masuk satuan ruang parkir dengan aman, selamat, dan memprioritaskan kelancaran lalu lintas;
d.
menjaga keamanan kendaraan yang diparkir;
e.
memberikan tanda bukti dan tempat parkir; dan
f.
mengganti kerugian kehilangan dan kerusakan kendaraan yang diparkir sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2)
Dalam hal pengguna jasa parkir telah memasuki area parkir dan tidak mendapatkan tempat parkir, dibebaskan dari biaya parkir.
Penjelasan: Cukup jelas.
(3)
Standar teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:
a.
kebutuhan ruang parkir;
Penjelasan: Cukup jelas.
b.
persyaratan satuan ruang parkir;
Penjelasan: Cukup jelas.
c.
komposisi peruntukkan;
Penjelasan: Yang dimaksud dengan komposisi peruntukan adalah proporsi ruang parkir yang disediakan untuk masing-masing jenis kendaraan misalnya sepeda, sepeda motor, mobil penumpang, mobil bus dan mobil barang, serta mobil ambulance dan mobil pemadam kebakaran.
d.
alinyemen;
Penjelasan: Cukup jelas.
e.
kemiringan;
Penjelasan: Cukup jelas.
f.
ketersediaan fasilitas Pejalan Kaki;
Penjelasan: Cukup jelas.
g.
alat penerangan;
Penjelasan: Yang dimaksud dengan alat penerangan dalam ketentuan ini termasuk ketentuan mengenai kualitas dan intensitas pencahayaan yang memadai dalam ruangan parkir baik pada siang hari maupun malam hari termasuk pada saat kondisi gelap.
h.
sirkulasi kendaraan;
Penjelasan: Cukup jelas.
i.
fasilitas pemadam kebakaran;
Penjelasan: Cukup jelas.
j.
fasilitas pengaman; dan
Penjelasan: Cukup jelas.
k.
fasilitas keselamatan.
Penjelasan: Cukup jelas.
(4)
Selain memenuhi standar teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (3), fasilitas parkir di dalam gedung harus memenuhi persyaratan:
a.
konstruksi bangunan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan;
Penjelasan: Yang termasuk konstruksi bangunan dalam ketentuan ini adalah dinding pengaman.
b.
ramp up dan ramp down;
Penjelasan: Cukup jelas.
c.
sirkulasi udara;
Penjelasan: Cukup jelas.
d.
radius putar; dan
Penjelasan: Cukup jelas.
e.
jalur keluar darurat.
Penjelasan: Cukup jelas.
(5)
Dalam pembangunan fasilitas parkir, penyelenggara fasilitas parkir harus mendapatkan rekomendasi atas pemenuhan persyaratan standar teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan/atau ayat (4).
Penjelasan: Cukup jelas.
(6)
Rekomendasi sebagaimana dimaksud pada ayat (5) diberikan oleh:
Penjelasan: Cukup jelas.
a.
Menteri untuk gedung parkir yang berada di jalan nasional;
b.
gubernur untuk gedung parkir yang berada di jalan provinsi; dan
c.
bupati/walikota untuk gedung parkir yang berada di jalan kabupaten/kota.
Paragraf 4 Tarif Parkir
Pasal 103
(1)
Penyelenggara fasilitas parkir untuk umum di luar ruang milik jalan dapat memungut tarif terhadap penggunaan fasilitas yang diusahakan.
(2)
Formula perhitungan tarif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dihitung berdasarkan:
a.
penggunaan fasilitas parkir per jam atau per hari;
b.
perjanjian penggunaan dalam jangka waktu tertentu;
c.
biaya operasional; dan
d.
asuransi.
(3)
Formula perhitungan tarif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan oleh Menteri.
(4)
Besaran tarif dihitung berdasarkan formula sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan ditetapkan dengan:
a.
Peraturan Daerah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta untuk lokasi parkir di wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta; dan
b.
peraturan daerah kabupaten/kota untuk lokasi parkir di wilayah kabupaten/kota.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Pasal 104
(1)
Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta, bupati, atau walikota sesuai dengan kewenangannya dapat melakukan pembatasan kapasitas ruang parkir.
(2)
Pembatasan kapasitas ruang parkir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan dengan pemberlakuan tarif parkir khusus.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Bagian Kedua Fasilitas Parkir di Dalam Ruang Milik Jalan
Pasal 105
(1)
Fasilitas parkir di dalam ruang milik jalan hanya dapat diselenggarakan di tempat tertentu pada jalan kabupaten, jalan desa, atau jalan kota yang harus dinyatakan dengan Rambu Lalu Lintas dan/atau Marka Jalan.
(2)
Fasilitas parkir di dalam ruang milik jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diperuntukkan untuk sepeda dan kendaraan bermotor.
(3)
Fasilitas parkir di dalam ruang milik jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan:
a.
paling sedikit memiliki 2 (dua) lajur per arah untuk jalan kabupaten/kota dan memiliki 2 (dua) lajur untuk jalan desa;
b.
dapat menjamin keselamatan dan kelancaran lalu lintas;
c.
mudah dijangkau oleh pengguna jasa;
d.
kelestarian fungsi lingkungan hidup; dan
e.
tidak memanfaatkan fasilitas Pejalan Kaki.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Pasal 106
Parkir di dalam ruang milik jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 105 dilarang dilakukan di:
a.
tempat penyeberangan Pejalan Kaki atau tempat penyeberangan sepeda yang telah ditentukan;
Penjelasan: Cukup jelas.
b.
jalur khusus Pejalan Kaki;
Penjelasan: Cukup jelas.
c.
jalur khusus sepeda;
Penjelasan: Cukup jelas.
d.
tikungan;
Penjelasan: Cukup jelas.
e.
jembatan;
Penjelasan: Cukup jelas.
f.
terowongan;
Penjelasan: Cukup jelas.
g.
tempat yang mendekati perlintasan sebidang;
Penjelasan: Cukup jelas.
h.
tempat yang mendekati persimpangan/kaki persimpangan;
Penjelasan: Cukup jelas.
i.
muka pintu keluar masuk pekarangan/pusat kegiatan;
Penjelasan: Yang dimaksud dengan "pusat kegiatan" antara lain: 1. kegiatan perdagangan; 2. kegiatan perkantoran; 3. kegiatan industri; 4. fasilitas pendidikan; 5. fasilitas pelayanan umum; dan/atau 6. kegiatan lain yang dapat menimbulkan bangkitan dan/atau tarikan lalu lintas.
j.
tempat yang dapat menutupi Rambu Lalu Lintas atau Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas;
Penjelasan: Cukup jelas.
k.
berdekatan dengan keran pemadam kebakaran atau sumber air untuk pemadam kebakaran; atau
Penjelasan: Cukup jelas. Huruf 1 Cukup jelas.
l.
pada ruas dengan tingkat kemacetan tinggi.
Pasal 107
(1)
Lokasi fasilitas parkir di dalam ruang milik jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 105 ditetapkan oleh:
a.
gubernur untuk jalan kota yang berada di wilayah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta;
b.
bupati untuk jalan kabupaten dan jalan desa; dan
c.
walikota untuk jalan kota.
(2)
Penetapan lokasi parkir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan melalui forum lalu lintas dan angkutan jalan berdasarkan tingkatannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Pasal 108
(1)
Penyediaan fasilitas parkir di dalam ruang milik jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 105 dapat dipungut tarif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Penjelasan: Cukup jelas.
(2)
Penyelenggara parkir di dalam ruang milik jalan wajib:
Penjelasan: Cukup jelas.
a.
menyediakan tempat parkir yang sesuai standar teknis yang ditentukan;
b.
melengkapi fasilitas parkir paling sedikit berupa rambu, marka dan media informasi tarif, dan waktu;
c.
memastikan kendaraan keluar masuk satuan ruang parkir yang aman dan selamat dengan memprioritaskan kelancaran lalu lintas;
d.
menjaga keamanan kendaraan yang diparkir; dan
e.
mengganti kerugian kehilangan atau kerusakan kendaraan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3)
Pengguna parkir di dalam ruang milik jalan wajib:
Penjelasan: Cukup jelas.
a.
mematuhi ketentuan tentang tata cara parkir dan tata cara berlalu lintas; dan
b.
mematuhi tata tertib yang dikeluarkan oleh penyelenggara parkir.
(4)
Penyelenggara parkir sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat bekerjasama dengan pihak ketiga sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Penjelasan: Yang dimaksud dengan "pihak ketiga" adalah badan hukum Indonesia.
Bagian Ketiga Tempat Parkir Khusus
Pasal 109
(1)
Penyelenggara fasilitas parkir untuk umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 102 wajib menyediakan tempat parkir khusus untuk:
a.
penyandang cacat;
b.
manusia usia lanjut; dan
c.
wanita hamil.
(2)
Tempat parkir khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit memenuhi persyaratan:
a.
kemudahan akses menuju dari dan/atau ke bangunan/fasilitas yang dituju;
b.
tersedia ruang bebas yang memudahkan masuk dan keluar dari kendaraannya;
c.
dipasang tanda parkir khusus; dan
d.
tersedia ramp trotoar di kedua sisi kendaraan.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Bagian Keempat Sanksi Administratif
Pasal 110
Setiap penyelenggara parkir yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 101 ayat (1), Pasal 102 ayat (1) atau ayat (5), Pasal 108 ayat (2), atau Pasal 109 ayat (1) dikenai sanksi administratif.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Bagian Kelima Pengaturan Lebih Lanjut
Pasal 111
Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan teknis fasilitas parkir di dalam dan diluar ruang milik jalan diatur dengan Peraturan Menteri.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Pasal 112
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perizinan fasilitas parkir umum di luar ruang milik jalan serta sanksi administratif diatur dengan Peraturan Menteri.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
BAB VII
FASILITAS PENDUKUNG
Bagian Kesatu Umum
Pasal 113
(1)
Fasilitas pendukung penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan jalan meliputi:
a.
trotoar;
b.
lajur sepeda;
c.
tempat penyeberangan Pejalan Kaki;
d.
Halte; dan/atau
e.
fasilitas khusus bagi penyandang cacat dan manusia usia lanjut.
(2)
Penyediaan fasilitas pendukung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh:
a.
Menteri untuk jalan nasional;
b.
gubernur untuk jalan provinsi;
c.
bupati untuk jalan kabupaten dan jalan desa;
d.
walikota untuk jalan kota; dan
e.
badan usaha pengelola jalan tol untuk jalan tol.
(3)
Penyediaan fasilitas pendukung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikerjasamakan dengan pihak ketiga sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Bagian Kedua Trotoar
Pasal 114
(1)
Trotoar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 113 ayat (1) huruf a disediakan khusus untuk Pejalan Kaki.
(2)
Trotoar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat digunakan pesepeda apabila tidak tersedia jalur sepeda.
(3)
Penyediaan trotoar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan:
a.
keamanan;
b.
keselamatan;
c.
kenyamanan dan ruang bebas gerak individu; dan
d.
kelancaran lalu lintas.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Pasal 115
Trotoar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 114 harus disediakan pada ruas jalan di sekitar pusat kegiatan.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Bagian Ketiga Lajur Sepeda
Pasal 116
(1)
Lajur sepeda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 113 ayat (1) huruf b disediakan untuk pesepeda.
(2)
Lajur sepeda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa:
a.
lajur yang terpisah dengan badan jalan; dan
b.
lajur yang berada pada badan jalan.
(3)
Lajur sepeda pada badan jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b dipisahkan secara fisik dan/atau marka.
(4)
Lajur sepeda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan:
a.
keamanan;
b.
keselamatan;
c.
kenyamanan dan ruang bebas gerak individu; dan
d.
kelancaran lalu lintas.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Bagian Keempat Tempat Penyeberangan Pejalan Kaki
Pasal 117
(1)
Tempat penyeberangan Pejalan Kaki sebagaimana dimaksud dalam Pasal 113 ayat (1) huruf c disediakan khusus untuk Pejalan Kaki.
(2)
Tempat penyeberangan Pejalan Kaki sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa:
a.
penyeberangan di jalan;
b.
terowongan; dan/atau
c.
jembatan penyeberangan.
(3)
Tempat penyeberangan Pejalan Kaki sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus memperhatikan:
a.
volume lalu lintas kendaraan;
b.
volume Pejalan Kaki;
c.
tata guna lahan; dan
d.
status dan fungsi jalan.
(4)
Tempat penyeberangan Pejalan Kaki sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat digunakan tempat penyeberangan pesepeda apabila tidak tersedia tempat penyeberangan pesepeda.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Pasal 118
Tempat penyeberangan Pejalan Kaki sebagaimana dimaksud dalam Pasal 117 harus disediakan pada ruas jalan di sekitar pusat kegiatan.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Bagian Kelima Halte
Pasal 119
(1)
Halte sebagaimana dimaksud dalam Pasal 113 ayat (1) huruf d berfungsi sebagai tempat pemberhentian kendaraan bermotor umum untuk menaikkan dan menurunkan penumpang.
(2)
Pembangunan Halte sebagaimana dimaksud ayat (1) harus memperhatikan:
a.
volume lalu lintas;
b.
sarana angkutan umum;
c.
tata guna lahan;
d.
geometrik jalan dan persimpangan; dan
e.
status dan fungsi jalan.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Pasal 120
Halte sebagaimana dimaksud dalam Pasal 119 wajib disediakan pada ruas jalan yang dilayani angkutan umum dalam trayek.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Bagian Keenam Fasilitas Khusus Bagi Penyandang Cacat
Pasal 121
Fasilitas khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 113 ayat (1) huruf e berupa:
a.
prasarana; dan
b.
informasi.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Bagian Ketujuh Pengaturan Lebih Lanjut
Pasal 122
Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan teknis trotoar, lajur sepeda, tempat penyeberangan Pejalan Kaki, Halte, dan fasilitas khusus bagi penyandang cacat dan manusia usia lanjut diatur dalam Peraturan Menteri.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
BAB VIII
KETENTUAN LAIN-LAIN
Pasal 123
(1)
Dana preservasi jalan dimaksudkan untuk mempertahankan kondisi jalan.
Penjelasan: Cukup jelas.
(2)
Dana preservasi jalan ditujukan untuk terciptanya penyelenggaraan preservasi jalan yang berkelanjutan.
Penjelasan: Cukup jelas.
(3)
Pengelolaan dana preservasi jalan dilakukan berdasarkan prinsip berkelanjutan, akuntabilitas, transparansi, keseimbangan, dan kesesuaian.
Penjelasan: Yang dimaksud dalam ketentuan ini dengan: a. "berkelanjutan" adalah tersedianya sumber pendanaan bagi kegiatan preservasi jalan secara berkesinambungan; b. "akuntabilitas" adalah pengelolaan dana preservasi jalan yang dapat dipertanggungjawabkan; c. "transparansi" adalah ketentuan dan informasi mengenai pengelolaan dana preservasi jalan bersifat terbuka bagi seluruh masyarakat; d. "keseimbangan" adalah pengelolaan dana preservasi jalan didasarkan atas dasar keadilan dan keseimbangan kewajiban antara Pengguna Jalan dan penyelenggara jalan; dan e. "kesesuaian" adalah tarif yang dikenakan didasarkan atas tingkat pelayanan yang diberikan kepada Pengguna Jalan.
(4)
Ketentuan mengenai pengelolaan dana preservasi jalan diatur dengan peraturan pemerintah tersendiri.
Penjelasan: Cukup jelas.
BAB IX
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 124
Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku, semua peraturan perundang-undangan yang merupakan peraturan pelaksanaan dari Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 1993 tentang Prasarana dan Lalu Lintas Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1993 Nomor 63, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3529) dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Pasal 125
Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku, Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 1993 tentang Prasarana dan Lalu Lintas Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1993 Nomor 63, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3529) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Pasal 126
Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan
pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan
penempatannya dalam
Lembaran Negara Republik Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 10 Desember 2013
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
ttd.
DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 10 Desember 2013
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA
ttd.
AMIR SYAMSUDIN
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2013 NOMOR 193
Penjelasan Umum
Lalu Lintas dan Angkutan Jalan mempunyai peranan yang strategis dalam mendukung pembangunan dan integrasi nasional. Oleh karena itu untuk mewujudkan penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan jalan yang aman, selamat, tertib, dan lancar, perlu didukung ketersediaan jaringan dan fasilitas pendukung lalu lintas dan angkutan jalan yang layak dan baik. Kelayakan jaringan dan fasilitas pendukung lalu lintas dan angkutan jalan dapat dijamin jika didukung dengan perencanaan, pelaksanaan, pengelolaan, dan pengawasan beserta lembaga pelaksanaannya.
Pengaturan Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan bertujuan untuk mewujudkan Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang terpadu. Untuk mewujudkan lalu lintas dan angkutan jalan yang terpadu dilakukan pengembangan Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang menghubungkan semua wilayah di daratan. Pengembangan Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan berpedoman pada rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan sesuai dengan kebutuhan. Rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan terdiri atas rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan nasional, rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan provinsi, dan rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan kabupaten/kota.
Di samping itu, untuk lebih meningkatkan daya guna, hasil guna, dan pemanfaatan jalan, diperlukan pula adanya ketentuan bagi penyelenggara lalu lintas dan angkutan jalan dalam melaksanakan kegiatan perencanaan, pengaturan, pengawasan, dan pengendalian lalu lintas. Dalam melaksanakan kegiatan perencanaan, pengadaan, pemasangan fasilitas perlengkapan jalan, maka jalan dikelompokkan ke dalam beberapa kelas berdasarkan fungsi dan intensitas lalu lintas serta daya dukung muatan sumbu terberat dan dimensi kendaraan bermotor.
Untuk kepentingan penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan jalan dalam rangka pelayanan kepada masyarakat, maka dalam Peraturan Pemerintah ini diatur mengenai perlengkapan jalan dan prasarana lalu lintas dan angkutan jalan, yang meliputi Rambu Lalu Lintas, Marka Jalan, Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas, alat penerangan jalan, alat pengendali dan pengaman Pengguna Jalan, alat pengawasan dan pengamanan jalan, Terminal penumpang, Terminal barang untuk umum dan Terminal barang untuk kepentingan sendiri, fasilitas parkir umum, fasilitas pendukung yang terdiri atas trotoar, lajur sepeda, tempat penyeberangan Pejalan Kaki, Halte, serta fasilitas pendukung bagi penyandang cacat, manusia usia lanjut, dan wanita hamil. Perlengkapan jalan dan prasarana angkutan jalan tersebut merupakan unsur yang penting dalam penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan jalan dalam rangka memberikan perlindungan keselamatan, keamanan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas dan angkutan jalan.

Paper Terkait

Harmonization of Parking Fee Regulations in Local Regulations and Mayor's Regulations in the City of Yogyakarta

Anwar Hidayatulloh, bagus
Widya Pranata Hukum : Jurnal Kajian dan Penelitian Hukum Vol. 6 No. 1 2024

PERTANGGUNGJAWABAN PENGELOLA PARKIR ATAS KEHILANGAN KENDARAAN DI TEMPAT PARKIR

Bagus Imam Faisal, Siwi Widia Dara, St. Ika Noerwulan Fraja, Zubairi Zubairi
RechtIdee Vol. 15 No. 2 2020

Pertanggung Jawaban Hukum Pengelola Parkir Terkait Legalitas Usahanya

Murahman, Farhan, Berlianty, Teng, Kuahaty, Sarah Selfina
PATTIMURA Legal Journal Vol. 3 No. 3 2024

Legalitas Tindakan Pemerintah Daerah Dalam Pengalihan Fungsi Trotoar Kota Ambon

Samal, Radhi Rafiq Defrian, Irham, Muhammad, Matitaputty, Merlien Irene
PATTIMURA Law Study Review Vol. 2 No. 1 2024

IMPLEMENTASI PENYEDIAAN TEMPAT KHUSUS PARKIR DI KOTA SURABAYA

Nainggolan, Tiur Margareth Magdalena
Novum : Jurnal Hukum Vol. 5 No. 02 2018

Kesadaran Hukum Bagi Pengguna Kendaraan Bermotor Roda Dua Terkait Batas Kecepatan Maksimal Di Kabupaten Mojokerto

Saputra, Hendra Wahyu, Sulistyowati, Eny
Novum : Jurnal Hukum Vol. 7 No. 03 2020

IMPLEMENTASI PENYEDIAAN TEMPAT KHUSUS PARKIR DI KOTA SURABAYA

Nainggolan, Tiur Margareth Magdalena
Novum : Jurnal Hukum Vol. 5 No. 2 2018

Kesadaran Hukum Bagi Pengguna Kendaraan Bermotor Roda Dua Terkait Batas Kecepatan Maksimal Di Kabupaten Mojokerto

Saputra, Hendra Wahyu, Sulistyowati, Eny
Novum : Jurnal Hukum Vol. 7 No. 3 2020

UPAYA MENDORONG KEBIJAKAN PENYEDIAAN FASILITAS JALUR SEPEDA UNTUK KESELAMATAN PESEPEDA DI KABUPATEN KUDUS

Sulistyo Satriawan, Hidayatullah Hidayatullah
Jurnal Suara Keadilan Vol. 22 No. 2 2021

Tinjauan Pemasangan Road Barrier terhadap Kepatuhan Pengemudi dalam Berlalu Lintas di Persimpangan Kota Medan

Suryaningsih Silalahi
Jurnal Hukum Lex Generalis Vol. 6 No. 7 2025

ANALISIS JURIDIS KEDUDUKAN PERJANJIAN KEMITRAAN ANTARA PENGEMUDI JASA ANGKUTAN ONLINE DAN PERUSAHAAN PROVIDER DITINJAU DARI ASPEK HUKUM KEPERDATAAN

Zuhriati Khalid
Jurnal Hukum Kaidah: Media Komunikasi dan Informasi Hukum dan Masyarakat Vol. 18 No. 3 2019

Berita Terkait

Polisi Selidiki Kebakaran KMP Batumandi di Perairan Merak
29 Okt 2026

Polisi Selidiki Kebakaran KMP Batumandi di Perairan Merak

Kapal Motor Penumpang (KMP) Batumandi terbakar saat hendak masuk Pelabuhan Merak, Banten, Selasa (20/10/2026), lalu terbalik dan tenggelam keesokan malamnya. Seluruh 420 penumpang dan 40 awak kapal selamat, dan polisi kini menyelidiki kemungkinan adanya unsur pidana dalam kebakaran itu.

Baca selengkapnya
Aturan Baru SPM Jalan Tol Segera Terbit, Operator yang Lalai Terancam Denda hingga Putus Konsesi
16 Okt 2026

Aturan Baru SPM Jalan Tol Segera Terbit, Operator yang Lalai Terancam Denda hingga Putus Konsesi

Kementerian Pekerjaan Umum menargetkan peraturan menteri baru tentang standar pelayanan minimal (SPM) jalan tol diundangkan pada akhir Oktober 2026 untuk menggantikan aturan yang berlaku sejak 2014. Rancangan itu menambah indikator layanan dan menyiapkan sanksi bagi badan usaha jalan tol, mulai dari denda administratif hingga pemutusan perjanjian konsesi.

Baca selengkapnya
Kemenhub Ungkap Alasan Ojol Masuk Kategori Transportasi Umum dalam RUU LLAJ
07 Okt 2026

Kemenhub Ungkap Alasan Ojol Masuk Kategori Transportasi Umum dalam RUU LLAJ

Kemenhub memasukkan ojek daring (ojol) ke kategori transportasi umum dalam RUU Perubahan Ketiga UU LLAJ dengan alasan keselamatan dan untuk menutup kekosongan hukum yang sudah berlangsung sejak 2015. RUU ini juga akan memuat bab baru tentang angkutan berbasis platform digital, termasuk hak dan kewajiban aplikator, tarif, serta kuota.

Baca selengkapnya
Kejagung Jerat PT CNI dan Eks Sekjen ESDM dalam Kasus Korupsi Nikel Rp401 Miliar
07 Okt 2026

Kejagung Jerat PT CNI dan Eks Sekjen ESDM dalam Kasus Korupsi Nikel Rp401 Miliar

Kejaksaan Agung menetapkan PT Ceria Nugraha Indotama (CNI) dan empat orang, termasuk mantan Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Mochamad Teguh Pamudji, sebagai tersangka dugaan korupsi tata kelola komoditas nikel periode 2017–2020. Perkara ini bermula dari ekspor nikel tanpa pemenuhan kewajiban pasar dalam negeri (DMO) menggunakan dokumen uji kadar yang direkayasa, dengan kerugian negara sekitar Rp401,65 miliar menurut perhitungan BPKP.

Baca selengkapnya
Direksi Perusahaan Angkutan Umum Wajib Lulus Asesmen Keselamatan Mulai Oktober 2026
07 Okt 2026

Direksi Perusahaan Angkutan Umum Wajib Lulus Asesmen Keselamatan Mulai Oktober 2026

Kemenhub mewajibkan direksi perusahaan angkutan umum, terutama direktur operasi, lulus asesmen dan mengantongi sertifikat Sistem Manajemen Keselamatan Perusahaan Angkutan Umum (SMK PAU). Aturan ini ditargetkan berlaku paling lambat pekan kedua Oktober 2026.

Baca selengkapnya
Memuat konsolidasi…