Nullam dignissim, ante scelerisque the is euismod fermentum odio sem semper the is erat, a feugiat leo urna eget eros. Duis Aenean a imperdiet risus.

Memuat Data Peraturan...

Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 23 Tahun 1971

Abstrak Peraturan

Data tidak tersedia

Tentang
:Pemberian Tambahan Kelonggaran Perpajakan Kepada Proyek Industri/Pabrik Semen Cibinong
Bentuk Peraturan
:Peraturan Perundang-undangan
Instansi / Pemrakarsa
:Indonesia, Pemerintah Pusat
Otoritas
:Data tidak tersedia
Bentuk
:Peraturan Pemerintah
Bentuk Singkat
:PP
Nomor
:23
Tahun
:1971
Tempat Penetapan
:Jakarta
Tanggal Penetapan
:06 Mei 1971
Tanggal Pengundangan
:06 Mei 1971
Tanggal Berlaku
:06 Mei 1971
Status
:Berlaku
Bahasa
:Bahasa Indonesia
Lokasi
:Pemerintah Pusat
Sumber
:LN. 1971/ No 28 , TLN No 2962, LL Setkab : 3 HLM
Status Verifikasi
:
Belum diverifikasi
Sektor Utama
:
Keuangan, Moneter, dan Fiskal Perindustrian, Perdagangan, Koperasi & UMKM
Subsektor
:
Perpajakan Nasional Industri Manufaktur
Sub Subsektor
:
Pajak Penghasilan (PPh) PPN & Ketentuan Umum Pajak (KUP) Pembangunan Industri
Dokumen (Lampiran)

Peraturan Terkait

Belum ada peraturan terkait untuk data ini.

Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 23 Tahun 1971
TENTANG
PEMBERIAN TAMBAHAN KELONGGARAN PERPAJAKAN KEPADA PROYEK INDUSTRI/PABRIK SEMEN CIBINONG

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang
:
a.
bahwa produksi semen di Indonesia perlu ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pembangunan dalam rangka pelaksanaan PELITA;
b.
bahwa telah diberikan izin pendirian industri/pabrik semen Cibinong, Jawa Barat oleh Presiden dalam suratnya Nomor B-150/Pres/11/1970 tangga1 5 Nopember 1970 kepada Kaiser Cement & Cypsum Corporation U.S.A. atau anak perusahaannya (wholly-owned subsidary), Bamerical International Corporation U.S.A. dan P.T. Semen Gresik (PERSERO) dalam rangka penanaman modal asing menurut Undang-undang Nomor I tahun 1967 sebagaimana yang telah diubah dan ditambah dengan Undang-undang Nomor 11 tahun 1970;
c.
bahwa penanaman modal di bidang industri semen dengan kapasitas 500.000 ton/tahun memerlukan moda1 yang besar dan mengandung risiko yang besar pula, sehingga perlu diberikan tambahan kelonggaran perpajakan.
Mengingat
:
1.
Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945;
2.
Undang-undang Nomor 1 Tahun 1967 (Lembaran-Negara Republik Indonesia tahun 1967 Nomor 1; Tambahan Lembaran-Negara Republik Indonesia Nomor 2818) sebagaimana yang telah diubah dan ditambah dengan Undang-undang Nomor 1i tahun 1970 (Lembaran-Negara Republik Indonesia tahun 1970 Nomor 46; Tambahan Lembaran-Negara Repub1ik Indonesia Nomor 2943);
3.
Ordonansi Pajak Perseroan 1925 (Stb1. 1925: 319) sebagaimana yang telah beberapa kali diubahdan ditambah terakhir dengan Undang-undang Nomor 8 tahun 1970 (Lembaran-Negara Repubiik Indonesia tahun 1970 Nomor 43; Tambahan Lembaran-Negara Repubiik Indonesia Nomor 2940);
4.
Ordonansi Pajak Pendapatan 1944 (Stb1. 1944:17) sebagaimana yang telah beberapa kali diubah dan ditambah terakhir dengan Undang-undang Nomor 9 tahun 1970 (Lembaran-Negara Repubiik Nomor 44; Tambahan 1Lembaran-Negara Repub1ik Indonesia Nomor 2941);
5.
Aturan Bea Meterai 1921 (Stbi. 1921:498) sebagaimana yang telah beberapa kali diubah dan ditambah terakhir dengan Undang-undang Nomor 2 Prp. tahun 1965 (Lembaran-Negara RepubTik Indonesia tahun 1965 Nomor 12 1; Tambahan Lembaran-Negara Republik Indonesia Nomor 2794);
6.
Undang-undang Pajak Penjualan 1951 sebagaimana yang telah beberapa kali diubah dan ditambah terakhir dengan Undang-undang Nomor 2 tahun 1968 (Lembaran-Negara Repub1ik Indonesia tahun 1968 Nomor 14; Tambahan Lembaran-Negara Republik Indonesia Nomor 2847);
7.
Undang-undang Pajak atas Bunga, Dividen dan Royalty 1970 CLembaran-Negara Republik Indonesia tahun 1970 Nomor 45; Tambahan Lembaran-Negara Repub1ik Indonesia Nomor 2942

MEMUTUSKAN:

menetapkan
:
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA TENTANG PEMBERIAN TAMBAHANKELONGGARAN PERPAJAKAN KEPADA PROYEK INDUSTRI/PABRIK SEMEN CIBINONG
BAB I
INDUSTRI/PABRIK SEMEN CIBINONG
Pasal 1
Kepada Proyek Industri/Pabrik Semen Cibinong, sesuai dengan Aplikasi Form B tanggal 15 Desember 1969 yang teiah diubah dengan Aplikasi tanggal 8Agustus 1970 dan ditambah dengan Addendum tanggal "September197o, diberikan tambahankelonggaran perpajakan sebagai berikut:
Penjelasan Pasal:
Ke-1, tarip pajak 20% (dua puluh perseratus) atas dividen adaiah cukup wajar, karenanya perangsang ini dapat diberikan. Ke-2. tarip penjualan atas penyerahan semen yang kini berlaku adalah1o% (sepuluh perseratus). Ke-3. kebanyakan tarip pajak_penjualan atas penyerahan jasa dan barang-barang Adalah10% (sepuluh perseratus). Perangsang ini hanya berlaku selama masa konstruksi yang akan berlangsung kurang lebih3 (tiga) tahun. Ke-4. perangsang ini hanya berlaku selama masa konstruksi dan tarip bea meterai tertinggi yang kini berlaku adalah y% (setengah perseratus). Ke-5. perangsang ini hanya berlaku selama kurang lebih 3 (tiga) tahun dan hampir semua transaksi hukum dikenakan pajak bea-meterai. Ke-6. perangsang-perangsang ini dimaksudkan untuk menekan biaya. Ke-7. produksi, sehingga semen dapat terbeli.
BAB II
MENURUT UNDANG-UNDANG PAJAK ATAS PENDAPATAN DI AMERIKA SERIKAT
Pasal 2
Aplikasi Form B tanggal 15 Desember 1969 yang telah diubah dan ditambah dengan Ap1ikasi tanggal 8 Agustus1970 jo. Addendum tanggal 29 September 1970 merupakan bagian yang tak terpisahkan dariPeraturan Pemerintah ini.
Penjelasan Pasal:
Ketentuan-ketentuan dalam pasal 1 merupakan bagian-bagian pokok dari ketentuan-ketentuan dalam aplikasi tersebut dalam pasal ini, yang telah dibahas dan disetujui oleh Panitia Tehnis PenanamanModai.
BAB III
DARI PERATURAN PEMERINTAH INI
Pasal 3
Hal-hal yang belum cukup diatur dalam Peraturan Pemerintah ini akan ditetapkan oleh Menteri Keuangan.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
BAB IV
DARI PERATURAN PEMERINTAH INI
Pasal 4
Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada hari tanggal diundangkannya. Agar supaya setiap_ orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran-Negara Republik Indonesia.
Penjelasan Pasal:
(Termasuk Lembaran-Negara Republik Indonesia tahun 1971 Nomor 28).
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 6 Mei 1971.
Presiden Republik Indonesia,
SOEHARTO
JenderatT.N.I.
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 6 Mei 1971
Sekretaris Negara Republik Indonesia,
ALAMSJAH
Letnan Jenderal T.N.I
Penjelasan Umum
1.
Industri Semen mempunyai peranan penting untuk meningkatkan prasarana pembangunan dalam rangka peTaksanaan PELITA.
2.
Industri/Pabrik Semen Cibinong yang akan didirikan dalam rangka Penanaman Modal Asing gdan yang telah disetujui Pemerintah, seperti tercantum dalam Surat
Repubiik Indonesia Nomor B-150/Pres/11/1970 tanggai 5Nopember1970, merupakan industri mengolah bahan baku hampir seluruhnya terdapat di daiam negeri. Hal ini sangat menguntungkan bagi peningkatan ekonomi nasional.
3.
Pabrik Semen_tersebut akan memproduksi paling sedikit 500.000 ton setahun.
Oleh karena itu diperLukan modal investasi yang besar dan dengan sendirinya membawa resiko yang besar pula. 4.
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka sudah sewajarnya diberikan tambahan kelonggaran perpajakan kepada Pabrik Semen yang akan didirikan di Cibinong, Jawa Barat.

Paper Terkait

Belum ada paper terkait untuk peraturan ini.

Berita Terkait

Pemerintah Tanggung Penuh PPN Tiket Pesawat Domestik Kelas Ekonomi untuk Libur Nataru
29 Okt 2026

Pemerintah Tanggung Penuh PPN Tiket Pesawat Domestik Kelas Ekonomi untuk Libur Nataru

Pemerintah menanggung 100 persen PPN atas tarif dasar dan fuel surcharge tiket pesawat domestik kelas ekonomi untuk penerbangan 22 Desember 2026 sampai 10 Januari 2027, dengan syarat tiket dibeli sejak 20 Oktober 2026. Aturannya dimuat dalam PMK Nomor 77 Tahun 2026, dan maskapai wajib membuat faktur pajak serta menyampaikan daftar rincian transaksi ke Direktorat Jenderal Pajak paling lambat 31 Maret 2027 agar fasilitas tidak gugur.

Baca selengkapnya
MSCI Usulkan Status Pasar Saham Indonesia Turun ke Standalone, IHSG Anjlok 11,57 Persen
19 Okt 2026

MSCI Usulkan Status Pasar Saham Indonesia Turun ke Standalone, IHSG Anjlok 11,57 Persen

MSCI mengusulkan penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market ke Standalone Market, kategori yang juga memuat Zimbabwe, sehingga IHSG ditutup anjlok 11,57 persen pada 16 Oktober 2026. Konsultasi terbuka hingga 30 April 2027 dan keputusan akhir diumumkan paling lambat 30 Juni 2027.

Baca selengkapnya
Penawaran Tender Wajib Saham DOOH Dipatok Rp148, Jauh di Bawah Harga Pasar
07 Okt 2026

Penawaran Tender Wajib Saham DOOH Dipatok Rp148, Jauh di Bawah Harga Pasar

Pengendali baru PT Era Media Sejahtera Tbk (DOOH) membuka penawaran tender wajib atas saham publik seharga Rp148 per saham. Harga itu sekitar 59 persen di bawah harga penutupan saham DOOH di bursa.

Baca selengkapnya
Antara Potensi dan Kesiapan Koperasi Desa Merah Putih dalam Pasar Karbon
03 Sep 2026

Antara Potensi dan Kesiapan Koperasi Desa Merah Putih dalam Pasar Karbon

Perdagangan karbon membuka peluang bagi KDMP untuk memperoleh manfaat ekonomi dari potensi lingkungan desa. Namun, keterlibatan tersebut masih terkendala oleh kesiapan kelembagaan, pembiayaan, kapasitas teknis, dan akses pasar. Oleh karena itu, penguatan KDMP diperlukan agar perdagangan karbon tidak hanya mendukung penurunan emisi, tetapi juga meningkatkan daya tawar dan kesejahteraan masyarakat desa.

Baca selengkapnya
Dilema BEI Mengejar Target 50 IPO di Tengah Volatilitas Pasar
03 Sep 2026

Dilema BEI Mengejar Target 50 IPO di Tengah Volatilitas Pasar

Realisasi IPO BEI pada 2026 masih jauh dari target 50 perusahaan, dengan hanya 7 perusahaan yang melantai hingga akhir Juli. Kondisi ini mendorong BEI mempertimbangkan revisi target di tengah volatilitas pasar. Namun, upaya meningkatkan jumlah IPO tetap perlu diimbangi dengan keterbukaan informasi, akuntabilitas emiten, dan perlindungan investor agar efisiensi pasar tidak mengorbankan kualitas perusahaan tercatat.

Baca selengkapnya

Konsolidasi segera hadir

Teks peraturan yang sudah menggabungkan seluruh perubahannya, lengkap dengan riwayat tiap pasal, sedang kami siapkan.