Nullam dignissim, ante scelerisque the is euismod fermentum odio sem semper the is erat, a feugiat leo urna eget eros. Duis Aenean a imperdiet risus.

Memuat Data Peraturan...

Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 1955

Abstrak Peraturan

Data tidak tersedia

Tentang
:Peraturan Pembebasan Dari Bea-Masuk Dan Bea-Keluar Umum Untuk Keperluan Golongan-Golongan Pejabat Dan Ahli Bangsa Asing Yang Tertentu
Bentuk Peraturan
:Peraturan Perundang-undangan
Instansi / Pemrakarsa
:Indonesia, Pemerintah Pusat
Otoritas
:Data tidak tersedia
Bentuk
:Peraturan Pemerintah
Bentuk Singkat
:PP
Nomor
:19
Tahun
:1955
Tempat Penetapan
:Jakarta
Tanggal Penetapan
:01 Juni 1955
Tanggal Pengundangan
:15 Juni 1955
Tanggal Berlaku
:15 Juni 1955
Status
:Berlaku
Bahasa
:Bahasa Indonesia
Lokasi
:Tidak diketahui
Sumber
:LN. 1955/No. 40, TLN. No. 821, LLBPHN : 3 HLM
Status Verifikasi
:
Belum diverifikasi
Sektor Utama
:
Keuangan, Moneter, dan Fiskal Perindustrian, Perdagangan, Koperasi & UMKM
Subsektor
:
Kepabeanan dan Cukai Ekspor-Impor
Sub Subsektor
:
Kepabeanan (Ekspor/Impor) Kebijakan Impor
Dokumen (Lampiran)

Peraturan Terkait

Belum ada peraturan terkait untuk data ini.

Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 1955
TENTANG
PERATURAN PEMBEBASAN DARI BEA-MASUK DAN BEA-KELUAR UMUM UNTUK KEPERLUAN GOLONGAN-GOLONGAN PEJABAT DAN AHLI BANGSA ASING YANG TERTENTU

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang
:
a.
bahwa baik oleh atau dengan perantaraan Perserikatan Bangsa-bangsa beserta organisasi-organisasinya, maupun oleh negara-negara asing dan organisasi-organisasi khusus iainnya diluar negeri dalam hal-hal yang istimewa oleh perseorangan-perseorangan berbangsa asing, telah diberikan bantuan teknik pada perkembangan dalam Tapangan ekonomi dan/ atau kebudayaan dinegeri ini bahwa dalam perjanjian-perjanjian yang hingga kini diadakan dengan organisasi-organisasi, negara-negara dan perseorangan-perseorangan tersebutdiatas tadi antara lain telah dimuat ketentuan-ketentuan mengenai pembebasan dari bea-bea-pabean. bahwa dipandang perlu memberikan dasar hukum terhadap pembebasan-pembebasan itu.
Mengingat
:
1.
Pasal 3 ayat 2 hurufb dari "Indische Tariefwet' (Staatsblad 1924 No. 497) dan pasal 4 ayat 1 dari, Ordonnantie Algemeen Uitvoerrecht 194g' (Staatsblad No. 39);
2.
Pasal 98 Undang-undang Dasar Sementara Republik Indonesia.

MEMUTUSKAN:

menetapkan
:
PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PERATURAN PEMBEBASAN DARI BEA-MASUK DAN BEA-KELUAR-UMUM UNTUK KEPERLUAN GOLONGAN-GOLONGAN PENJABAT DAN AHLI BANGSA ASING YANG TERTENTU
Pasal 1
Tidak akan dipungut bea-masuk terhadap i. barang-barang yang dipergunakan untuk pemakaian sendiri dari:
a.
Penjabat-penjabat, yang. bekerja pada dan ahli-ahii bukan penjabat yang melakukan tugas penting untuk:
1.
Perserikatan Bangsa-bangsa (U.N.O.) beserta organisasi-organisasinya.
2.
Negara-negara asing.
3.
Organisasi-organisasi asing lainnya. dan3 yang dengan suatu perjanjian atau tidak, memberikan bantuan teknikpadaperkembangan dalam lapangan ekonomi dan/atau kebudayaan di Indonesia. Yang dimaksud penjabat-penjabat ialah orang-orang bangsa asing, yangdisamping melakukan jabatannya, tidak menjalankan pekerjaan atau perusahaan lain dinegeri ini dan tidak merupakan tenaga yang diangkat setempat. Yang dimaksud dengan ahli-ahli ialah orang-orang bangsa asing, yang untuk sementara melakukan tugas (zending) diberikan oleh negara-negara dan organisasi-organisasi yang disebut diatas pada 1 sampai dengan tidak menjalankan pekerjaan atau perusahaan lain dinegeri ini.
b.
Ahli-ahli ibangsa asing mengadakan perjanjian ikatan-dinas khusus Pemerintah baik berdasarkan "'The Agreement for the Provision of Technical Assistance' diadakan antara Republik Indonesia dan Perserikatan Bangsa-bangsa pada tanggal 5 Maret 1952 sebagaimana kemudian telah diubah, maupun berdasarkan syarat-syarat khusus yang tidak termasuk dalam rangka perjanjian-perjanjianpengiriman yang telah lazim. Dalam kata-kata pemakaian sendiri termasuk pemakaian untuk keperluan anggota keluarga. II. Pengiriman-pengiriman oleh negara-negara organisasi-organisasiyang disebut pada A 1, A 2 dan A 3 kepada penjabat-poenjabatnya dinegeri ini,_yang terdiri dari
a.
pengumuman-pengumuman, alat-alat keperluan kantor dan lainnya untuk pemakaian yang resmi
b.
perkakas-perkakas, alat-alat bagian perlengkapan 1dan barang-barang lain yang dipakai oleh' ahli-ahti untuk melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya.
c.
denganmaksud untuk secara percuma kepadarumah-rumah sakit ussaha-usaha kesehatan yang. lain, lembaga-lembaga Perguruan, Ilmu Pengetahuan, kebudayaan dan badan-badan Tain semacam itu.
Penjelasan Pasal:
Pasal-pasal ini menentukan barang-barang manakah yang dapat diberikan bea-masuk dan bea-keluar. Dalam peraturan yang akan ditetapkan lebih lanjut oleh Menteri Keuangan Pasal 5 ayat 2, akan ketentuan-ketentuan mengenai barang manakah yang dimasukkan, sebagai pemakaian sendiri dan pemakaian resmi. Ada maksud untuk memberikan tafsiranyangluas mengenai soal ini.
Pasal 2
Tidak akan dipungut bea-keluar-umum atas barang-barang, bukan barang-barang perdagangan, yang dikeluarkan oleh penjabat-penjabat dan ahTi-ahli yang disebut pada pasal 1 pada I A dan B.
Penjelasan Pasal:
Pasal-pasal ini menentukan barang-barang manakah yang dapat diberikan bea-masuk dan bea-keluar. Dalam peraturan yang akan ditetapkan lebih lanjut oleh Menteri Keuangan Pasal 5 ayat 2, akan ketentuan-ketentuan mengenai barang manakah yang dimasukkan, sebagai pemakaian sendiri dan pemakaian resmi. Ada maksud untuk memberikan tafsiranyangluas mengenai soal ini.
Pasal 3
Peraturan-peraturan lain mengenai pemasukan dan pengeluaran barang-barang selanjutnya tetap berlaku.
Penjelasan Pasal:
Pasal ini menetapkan, bahwa ketentuan-ketentuan biasa yang berlaku terhadap pemasukan dan pengeluaran barang-barang dengan tidak dikurangi tetap akan'beriaku, yakni melakukan pemberitahuan pemasukan dan pengeluaran.
Pasal 4
Tidak diperkenankan mengubah tujuan barang-barang berdasarkan ketentuan pada pasal 1 telah diberikan pembebasan bea-masuk, kecuali jika dapat izin dari atau atas nama Menteri Keuangan.
Penjelasan Pasal:
Mengandung (maksud dalam pemberian izin untuk melakukan perubahan terhadap tujuan (penjualan, menghadiahkan, meminjamkan, dan sebagainya) mengenai barang-barang seperti mobil, frigidaire, piano, radio dan sebagainya, mengadakan syarat, bahwa bea-masuk atas barang-barang gtersebut tetap terhutang jika perubahan tujuan tadi dilakukan dalam masa 2 tahun seteTah pemasukannya. Bea-masuk dalam hal demikian akan dihitung menurut harga pada saat saat barang-barang tadi dijual dan sebagainya dan dengan mengingat peraturan-peraturan yang berlaku mengenai hal ini.
Pasal 5
Menteri Keuangan akan memberitahukan nama-nama dari organisasi-organisasi luar negeri yang memberikan bantuan sebagai yang dimaksud pada IA dan ahTi-ahTi sebagai yang dimaksud pada I b. Beliau_ akan menetapkan pula peraturan-peraturan lebih lanjut mengenai pelaksanaan Peraturan Pemerintah ini.
Penjelasan Pasal:
Ayat lUntuk menghindarkan bahwa setiap kali jika diadakan perjanjian dengan organisasi-organisasi iluarnegeri atau orang bangsa asingyang baru_harus diselesaikan dengan usul Peraturan Pemerintah, maka dalam ayat dari pasal iniMenteri Keuangan diberi kekuasaan untuk mengumumkan nama-nama dari organisasi-organisasi dan orang-orang yang berhubungan dengan peraturan pembebasan ini.
Pasal 6
Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada hari diundangkan.
Agar supaya setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan
pengundanganPeraturan Pemerintah
ini dengan penempatan dalam
Lembaran-Negara Republik Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 1 Juni 1955.
Presiden Republik Indonesia
ttd.
SOEKARNO
Menteri Keuangan,
ONG ENG DIE
Diundangkan
pada tanggal 15 Juni 1955.
Menteri Kehakiman,
DJODYGONDOKUSUMO

Paper Terkait

Belum ada paper terkait untuk peraturan ini.

Berita Terkait

Perpres 107/2026 Ubah Cara Negara Beli Minyak, BBM, dan LPG dari Luar Negeri
29 Okt 2026

Perpres 107/2026 Ubah Cara Negara Beli Minyak, BBM, dan LPG dari Luar Negeri

Pemerintah mengumumkan Peraturan Presiden Nomor 107 Tahun 2026 pada 26 Oktober 2026, mengalihkan pengadaan minyak mentah, BBM, dan LPG dari pola business to business ke skema antarpemerintah (G2G) dan pemerintah dengan badan usaha (G2B) dengan badan layanan umum (BLU) sebagai pelaksana. Naskah resmi perpres belum ditemukan di sumber terbuka, dan Center of Energy and Resources Indonesia (CERI) meminta pemerintah membukanya.

Baca selengkapnya
Pemerintah Tanggung Penuh PPN Tiket Pesawat Domestik Kelas Ekonomi untuk Libur Nataru
29 Okt 2026

Pemerintah Tanggung Penuh PPN Tiket Pesawat Domestik Kelas Ekonomi untuk Libur Nataru

Pemerintah menanggung 100 persen PPN atas tarif dasar dan fuel surcharge tiket pesawat domestik kelas ekonomi untuk penerbangan 22 Desember 2026 sampai 10 Januari 2027, dengan syarat tiket dibeli sejak 20 Oktober 2026. Aturannya dimuat dalam PMK Nomor 77 Tahun 2026, dan maskapai wajib membuat faktur pajak serta menyampaikan daftar rincian transaksi ke Direktorat Jenderal Pajak paling lambat 31 Maret 2027 agar fasilitas tidak gugur.

Baca selengkapnya
MSCI Usulkan Status Pasar Saham Indonesia Turun ke Standalone, IHSG Anjlok 11,57 Persen
19 Okt 2026

MSCI Usulkan Status Pasar Saham Indonesia Turun ke Standalone, IHSG Anjlok 11,57 Persen

MSCI mengusulkan penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market ke Standalone Market, kategori yang juga memuat Zimbabwe, sehingga IHSG ditutup anjlok 11,57 persen pada 16 Oktober 2026. Konsultasi terbuka hingga 30 April 2027 dan keputusan akhir diumumkan paling lambat 30 Juni 2027.

Baca selengkapnya
Penawaran Tender Wajib Saham DOOH Dipatok Rp148, Jauh di Bawah Harga Pasar
07 Okt 2026

Penawaran Tender Wajib Saham DOOH Dipatok Rp148, Jauh di Bawah Harga Pasar

Pengendali baru PT Era Media Sejahtera Tbk (DOOH) membuka penawaran tender wajib atas saham publik seharga Rp148 per saham. Harga itu sekitar 59 persen di bawah harga penutupan saham DOOH di bursa.

Baca selengkapnya
Antara Potensi dan Kesiapan Koperasi Desa Merah Putih dalam Pasar Karbon
03 Sep 2026

Antara Potensi dan Kesiapan Koperasi Desa Merah Putih dalam Pasar Karbon

Perdagangan karbon membuka peluang bagi KDMP untuk memperoleh manfaat ekonomi dari potensi lingkungan desa. Namun, keterlibatan tersebut masih terkendala oleh kesiapan kelembagaan, pembiayaan, kapasitas teknis, dan akses pasar. Oleh karena itu, penguatan KDMP diperlukan agar perdagangan karbon tidak hanya mendukung penurunan emisi, tetapi juga meningkatkan daya tawar dan kesejahteraan masyarakat desa.

Baca selengkapnya
Memuat konsolidasi…